TERNATE, SerambiTimur – Di jantung Kelurahan Tanah Tinggi, Masjid Istiqamah berdiri, saksi bisu harapan yang sempat membumbung tinggi lalu meredup. Janji Wali Kota Ternate, Dr. Hi. M. Tauhid Soleman, saat safari Ramadan 2025 untuk memugar lantai masjid, hanya menjadi kenangan pahit. APBD Perubahan 2025 tak menyentuh impian jamaah, meninggalkan tanya besar tentang prioritas pemerintah.
Namun, di tengah kekecewaan, secercah harapan muncul dari arah yang tak terduga. Nasab Foundation, sebuah lembaga yang mungkin tak sepopuler janji-janji politik, hadir dengan solusi nyata. Mereka tak hanya berjanji, tapi langsung bertindak, menanggung seluruh biaya perbaikan lantai masjid, dari semen hingga upah tukang.
Wahyu Firmansyah, Direktur Nasab Foundation, dengan nada prihatin mengungkapkan, “Kami tidak ingin melihat rumah ibadah terbengkalai hanya karena alasan anggaran.” Sebuah sindiran halus namun menohok bagi pemerintah yang lebih sibuk dengan retorika daripada aksi. Nasab Foundation hadir sebagai antitesis, mengisi celah yang ditinggalkan penguasa.
Yang lebih menarik, Nasab Foundation ternyata didanai oleh “anggaran pribadi” Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar. Ia menyisihkan seluruh pendapatannya sebagai pejabat untuk kepentingan masyarakat. Sebuah langkah revolusioner yang mempertanyakan moralitas para pemimpin yang seringkali lebih mementingkan diri sendiri.
“Pak Nasri Abubakar ingin agar setiap rupiah yang ia peroleh dari jabatannya benar-benar kembali ke masyarakat,” ujar Wahyu. Sebuah pernyataan yang menggugah nurani, mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan lahan untuk memperkaya diri.
Warga Tanah Tinggi pun tak tinggal diam. Mereka bergotong royong membongkar lantai lama masjid, menunjukkan semangat kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. “Kami sangat berterima kasih kepada Nasab Foundation yang telah meringankan beban kami,” kata seorang tokoh masyarakat. Sebuah sinergi yang indah antara kepedulian dan partisipasi.
Kini, Masjid Istiqamah telah bersolek. Lantai baru telah terpasang, tempat wudhu semakin nyaman dengan kanopi baru. Jamaah dapat kembali beribadah dengan tenang dan khusyuk. Shalat Jumat (14/11) menjadi momentum syukur atas berkah yang tak terduga.
Namun, kisah Masjid Istiqamah bukan hanya tentang pembangunan fisik. Ini adalah kritik sosial yang pedas terhadap pemerintah yang ingkar janji. Ini adalah pujian tulus bagi pemimpin yang rela berkorban untuk rakyatnya. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa perubahan nyata dapat dimulai dari hal-hal kecil, dengan hati yang tulus dan tindakan yang nyata.















Tinggalkan Balasan