Ternate

Selamat Jalan, Ko Nan — Pena Telah Diam, Namun Namanya Tetap Berdenyut di Hati

Serambi Diterbitkan 18:43 WIT 2 menit membaca
Ukuran Teks:

Oleh: Suprianto Nasir

Maluku Utara seketika berduka. Langit pers di tanah ini tampak mendung, seiring berpulangnya seorang putra terbaik, jurnalis senior yang tak hanya menulis berita, tetapi menulis dengan hati: Adnan Wais, yang akrab disapa Ko Nan.

Ia berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan duka yang mendalam bagi rekan-rekan seperjuangan, keluarga besar PWI Maluku Utara, dan siapa saja yang pernah menyentuh kelembutan hatinya.

Di mata kami, Ko Nan bukan sekadar rekan. Ia adalah kakak yang menuntun, guru yang tak pernah lelah memberi nasihat, dan sahabat yang senyumnya selalu meneduhkan. Selama puluhan tahun mengabdi di dunia pers, namanya menjadi lambang kejujuran. Kata-katanya lembut, namun kebenaran yang ia sampaikan bagai tiang yang tak mudah goyah. Pena yang dipegangnya tak pernah tunduk pada kekuasaan, melainkan selalu condong kepada mereka yang suaranya tak didengar.

Ia menulis bukan untuk dipuji, melainkan agar keadilan tegak. Ia berdiri bukan untuk diri sendiri, melainkan agar rakyat kecil diperhatikan. Di tengah dunia yang berubah cepat, Ko Nan tetap berdiri teguh pada satu hal: bahwa jurnalisme adalah amanah, dan kebenaran adalah jalan pulang.

Sebagai rekan yang lebih muda, Suprianto, menyampaikan kesan mendalamnya: “Beliau adalah sosok yang sangat baik hati. Dalam profesinya sebagai jurnalis, beliau selalu mendahulukan kepentingan umum. Ketika menulis, beliau senantiasa menjaga keseimbangan dan keadilan dalam setiap beritanya.”

Lebih dari itu, watak dan tutur katanya meninggalkan jejak yang tak terlupakan. “Sifat dan karakternya sangat halus. Beliau memperlakukan kami yang lebih muda dengan penuh kesopanan dan rasa hormat. Setiap kata yang terucap selalu membimbing dan memberi arahan, seakan tak pernah lelah menuntun langkah kami di dunia pers ini,” ungkap Suprianto dengan suara bergetar tertahan tangis.

Kini, langkah kakinya tak lagi terlihat menyambangi sudut-sudut kota demi sebuah laporan. Suaranya yang lantang namun penuh kehangatan tak lagi terdengar memberi semangat. Pena yang setia di tangannya kini telah berhenti menulis. Namun percayalah — Ko Nan tidak benar-benar pergi.

Namanya akan tetap terukir di setiap tulisan yang jujur. Semangatnya akan tetap hidup dalam dada insan pers yang melanjutkan perjuangannya. Dan kebaikan hatinya, itu tak akan pernah pudar oleh waktu.

“Innalilahi wa innailaihi raji’un…”

Selamat jalan, Ko Nan. Terima kasih telah mengajarkan kami: bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara hidup — hidup untuk kebenaran, hidup untuk sesama, dan hidup dengan hati yang tulus.

Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya. Maluku Utara kehilanganmu, namun kami bersyukur pernah mengenalmu. Cahaya yang kau nyalakan tak akan pernah padam.

Tinggalkan komentar