TERNATE, SerambiTimur — Setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan air bersih, warga RT 09, Lingkungan Buku Bendera, Kelurahan Moya, Kecamatan Ternate Tengah, akhirnya bisa menikmati layanan air minum langsung ke permukiman mereka.
Sistem Pelayanan Air Minum Perumda Ake Gaale di wilayah tersebut resmi dioperasikan oleh Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, Rabu (12/8/2026). Peresmian ini dirangkaikan dengan penandatanganan berita acara hibah tanah dari warga untuk mendukung penyediaan akses air bersih bagi masyarakat.
Tauhid memberikan apresiasi kepada keluarga yang secara sukarela menghibahkan tanah untuk kepentingan umum. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial yang tidak ternilai dan dapat menjadi amal jariyah.
“Tanah ini dipersembahkan untuk masyarakat, demi air bersih yang layak dikonsumsi. Tidak semua orang mampu dan rela berbagi seperti ini,” ujar Tauhid.
Bagi warga Moya, hadirnya jaringan air bersih bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Aliran air tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini tinggal di wilayah ketinggian dan sulit dijangkau jaringan pelayanan.
Di tengah momentum menyambut 81 tahun Kemerdekaan RI, Tauhid memaknai kemerdekaan dalam arti yang lebih luas: bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar.
“Hari ini kita memerdekakan warga RT 09 dari keterbatasan air. Bukan berjuang melawan penjajah, melainkan berjuang memenuhi kebutuhan paling hakiki: air bersih,” tegasnya.
Tauhid mengakui tantangan penyediaan air bersih di Kota Ternate tidak ringan. Kondisi geografis kota yang sebagian permukimannya berada di wilayah ketinggian membuat distribusi air membutuhkan perhatian dan strategi khusus.
Dengan jumlah penduduk sekitar 314 ribu jiwa, saat ini pelanggan layanan air bersih baru mencapai sekitar 36 ribu sambungan rumah, yang diperkirakan melayani sekitar 150 ribu jiwa.
“Sekitar separuh warga kita belum terjangkau. Artinya, jalan panjang masih terbentang agar harapan seluruh warga Ternate memiliki air bersih di rumahnya dapat terwujud,” tandas Tauhid.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Ake Gaale, Firman Sjah, mengatakan perluasan jaringan ke kawasan ketinggian menjadi salah satu prioritas pelayanan sesuai arahan Wali Kota.
Di Moya, kata Firman, warga selama bertahun-tahun mengandalkan air dengan cara membeli, menampung air hujan, hingga mengambil air dari sumber pegunungan yang debitnya semakin berkurang akibat perubahan musim.
Peluang untuk menghadirkan layanan air kemudian muncul setelah dilakukan peninjauan dan uji coba terhadap bak penampungan di kawasan Faceih yang sebelumnya tidak digunakan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan fasilitas tersebut masih layak difungsikan. Dari fasilitas itu, jaringan kemudian dibangun hingga menjangkau permukiman warga.
Kini, sebanyak 78 kepala keluarga di RT 09 telah terdaftar sebagai pelanggan. Jaringan tersebut juga direncanakan terus diperluas hingga kawasan Taman Love dan wilayah lain yang masih membutuhkan layanan, termasuk Malayaro dan Tawona.
“Seluruh Ternate adalah prioritas pelayanan. Namun di antara semuanya, ada yang lebih mendesak untuk didahulukan,” ungkap Firman.
Bagi warga Moya, hadirnya air bersih menjadi perubahan besar setelah puluhan tahun menunggu.
Safrin Sangaji, salah satu warga, mengaku bersyukur karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, air bersih kini dapat mengalir ke lingkungan mereka.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Ternate dan Perumda Ake Gaale yang telah membuka akses layanan air bersih bagi warga di kawasan ketinggian yang selama ini harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan air.
“Kini kami bukan sekadar merdeka dari penjajahan, melainkan merdeka dari kekeringan. Semoga kelak seluruh warga Ternate pun demikian, tak lagi harus mengeluarkan harta demi setetes air bersih,” harapnya.
Bagi warga RT 09 Moya, kemerdekaan kali ini terasa nyata—bukan hanya dirayakan dengan upacara, tetapi dialirkan langsung melalui setiap tetes air bersih yang kini sampai ke rumah mereka.
