TERNATE, SerambiTimur — Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurjaya Hi Ibrahim, menyoroti persoalan serius di Laboratorium Kesehatan Daerah (Lab Kesda) Kota Ternate. Meski memiliki peralatan canggih setara laboratorium nasional, sebagian besar alat tidak bisa digunakan akibat ketiadaan reagen.
“Alat pemeriksaan makanan dan minuman Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) tidak dapat digunakan karena tidak ada reagen. Begitu juga alat pemeriksaan COVID-19 dan DNA di ruang BSL2, GCMS untuk narkoba, dan Hematology Analyzer untuk darah lengkap,” ungkap Nurjaya, Sabtu (13/9/2025).

Akibatnya, pemeriksaan yang seharusnya bisa dilakukan di Lab Kesda harus dialihkan ke lembaga lain seperti BNN. Kondisi ini membuat potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hilang.
Nurjaya mendesak Pemkot Ternate segera menganggarkan pengadaan reagen serta menambah daya listrik hingga 44.000 KWH untuk mendukung operasional laboratorium.
Kepala UPTD Lab Kesda Ternate, Rini Ariani Amra, mengakui laboratorium hanya melayani pemeriksaan dasar seperti uji kimia, hematologi, dan laboratorium klinik. Padahal, Lab Kesda telah dilengkapi alat berstandar tinggi dari DAK pusat, termasuk HPLC, AAS, dan GCMS.
“Alat ini hanya ada di empat daerah di Indonesia, termasuk Ternate. Sangat membanggakan, tapi kendalanya pada reagen dan sarana pendukung,” jelasnya.
Rini berharap dukungan penuh agar Lab Kesda bisa beroperasi maksimal, meningkatkan pelayanan, serta berkontribusi bagi PAD Kota Ternate.















Tinggalkan Balasan