Halut

Janji yang Belum Terpenuhi, Rakyat Tiga Desa Malifut Lanjutkan Jalan Tani dengan Uang Sendiri

Serambi Diterbitkan 14:27 WIT 2 menit membaca
Ukuran Teks:

HALUT, SerambiTimur – Bertahun-tahun sudah hati warga Desa Tomabaru, Sosol, dan Tahane di Kecamatan Malifut, berharap ada tangan pemerintah yang menyentuh Jalan Tani Panaburu. Namun harapan itu perlahan memudar. Akhirnya, dengan berat hati namun teguh, mereka kembali menyisihkan sisa uang di rumah untuk melanjutkan jalan yang menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan mereka.

Jalan ini sejak perta dikerjakan, sepenuhnya atas keringat dan uang rakyat. Pemerintah kabupaten Halmahera Utara sebelumnya pernah berjanji akan membangun Jalan tersebut namun janji itu hanya tertinggal di udara, tak pernah menyentuh tanah yang mereka garap.

“Kami sudah menyampaikan berkali-kali ke pemerintah kabupaten. Dulu pernah dijanjikan akan dibangun, tapi sampai hari ini tak ada tanda satu pun. Jalan ini dibuat sendiri oleh masyarakat tiga desa dari awal,” ujar Antho, warga Desa Tahane.

Ratusan petani turun ke lokasi, membawa cangkul, sekop, dan menyisihkan apa yang mereka miliki. Mereka berharap suatu saat nanti, pemerintah akan melihat perjuangan ini dan ikut memeliharanya. Namun hingga kini, tak ada satu pun rupiah anggaran yang turun untuk akses ini. Padahal di sini lah nasib ribuan ton hasil panen ditentukan: jika jalan rusak, hasil bumi membusuk di ladang, harga anjlok, dan biaya angkut melonjak tak terbayang.

“Kami sudah berseru ke mana-mana. Tapi seolah suara kami tak sampai. Daripada menunggu sia-sia, lebih baik kami kumpulkan lagi uang kamiuntuk Pengecoran lanjutan, kata Antho.

Di sini tersimpan pertanyaan yang menyayat hati: bagaimana mungkin jalan penghidupan rakyat harus dibangun dengan uang belas kasih petani sendiri, ? Apakah janji-janji indah hanya diucapkan saat meminta suara, lalu dilupakan saat rakyat benar-benar membutuhkan pertolongan?

Kini, setiap kepala keluarga kembali menyisihkan Rp50.000 hingga Rp100.000—uang yang seharusnya untuk kebutuhan sekolah anak atau makan sehari-hari—hanya untuk membeli semen, pasir, dan batu guna pengecoran lanjutan. Padahal tahap pertama pun sudah mereka kerjakan sendiri.

Kepala Desa Tahane, Rafid U. Basyarun, menjelaskan rencana sederhana namun penuh pengorbanan itu. “Kami ingin menyambung jalan dari pinggir jalan utama lintas Halut sampai ke tengah perkebunan Panaburu Tengah, sekitar dua kilometer. Semuanya murni tenaga dan uang tiga desa ini saja,” ucapnya lembut namun tegas.

Dana yang terkumpul pun belum banyak, hanya cukup memulai sebagian ruas. Warga hanya berharap, sebelum tenaga dan kemampuan mereka benar-benar habis, pemerintah akhirnya sadar: jalan rakyat adalah tanggung jawab negara, bukan beban yang harus dipikul sampai titik darah penghabisan oleh rakyat kecil.

Tinggalkan komentar