Ternate

Ake Ma Sou, Tradisi Menjaga Mata Air Kehidupan Kota Ternate

Serambi Diterbitkan 13:52 WIT 3 menit membaca
Ukuran Teks:

TERNATE, SerambiTimur— Ratusan warga Lingkungan Ake Gaale, Kelurahan Sangaji, bersama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale Kota Ternate kembali menggelar ritual adat Ake Ma Sou 2026, sebagai wujud syukur sekaligus komitmen bersama menjaga kelestarian sumber mata air yang menjadi penopang utama kebutuhan air bersih masyarakat Kota Ternate.

Ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan sumber daya alam yang selama ini menghidupi ribuan warga.

Salah satu prosesi yang paling sakral dalam rangkaian Ake Ma Sou adalah Si Ruru Juanga, sebuah ritual yang dimaknai sebagai simbol membuang atau menangkal segala mara bahaya sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas anugerah sumber air yang terus mengalir dan memberi kehidupan.

Pelaksanaan ritual turut dihadiri Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Direktur Perumda Ake Gaale Kota Ternate Firman Mudaffar Sjah, Camat Ternate Utara, para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Kelurahan Sangaji.

Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, menegaskan bahwa Ake Ma Sou merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber mata air.

Menurutnya, tradisi tersebut harus terus dilestarikan karena mengandung pesan kuat tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.

“Ritual ini sudah lama dilakukan masyarakat. Kearifan lokal yang diwariskan harus terus dijaga karena menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran bersama dalam melestarikan sumber air,” ujar Tauhid.

Ia mengungkapkan, sekitar 60 persen kebutuhan air bersih Kota Ternate dipasok dari sumber mata air Ake Gaale. Karena itu, menjaga kawasan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Tauhid mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah maupun limbah di sekitar kawasan sumber air agar kualitas dan keberlanjutan mata air tetap terjaga bagi generasi mendatang.

“Kami juga berharap Perumda Ake Gaale terus bekerja sama dengan masyarakat untuk menghidupkan tradisi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sumber air,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Save Ake Gaale, Alwan M. Arif, mengatakan masyarakat hingga kini tetap konsisten melakukan berbagai upaya konservasi karena Ake Gaale merupakan sumber utama air bersih bagi Kota Ternate.

Menurut Alwan, berbagai ancaman terhadap kawasan tersebut masih terus membayangi, mulai dari intrusi air laut hingga potensi pencemaran yang dapat menurunkan kualitas sumber air.

Karena itu, pihaknya terus mendorong terwujudnya kawasan Ake Gaale sebagai ruang terbuka hijau agar perlindungan dan rehabilitasi kawasan resapan air dapat dilakukan secara lebih terencana dan berkelanjutan.

“Agenda besar kami adalah mewujudkan kawasan Ake Gaale sebagai ruang terbuka hijau sehingga upaya perlindungan dan perbaikan kawasan sumber air dapat dilakukan secara lebih terarah,” ujarnya.

Alwan juga berharap ritual Ake Ma Sou dapat ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan yang terintegrasi dalam program Dinas Kebudayaan Kota Ternate sehingga pelestarian tradisi sekaligus konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan.

Bagi masyarakat Sangaji, Ake Ma Sou bukan sekadar seremoni adat. Ritual ini menjadi pengingat bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama, sehingga warisan alam dan budaya tersebut tetap lestari untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Tinggalkan komentar