Daerah

PT Positon Lanjutkan Perawatan 1.800 Mangrove di Pantai Kasuari

Serambi Timur Diterbitkan 20:51 WIT 2 menit membaca
Ukuran Teks:

 

SerambiTimur– Upaya menjaga kelestarian ekosistem pesisir di Halmahera Timur terus dilakukan PT Positon. Tak berhenti pada aksi penanaman, perusahaan tersebut kini melanjutkan program konservasi mangrove melalui monitoring, perawatan, dan penyulaman bibit di Pantai Kasuari, Desa Wailukum.

Sebanyak 1.800 bibit mangrove telah ditanam di kawasan pesisir seluas kurang lebih 3.500 meter persegi. Program tersebut digagas PT Positon dalam rangka memperingati **Hari Lingkungan Hidup Sedunia (HLHS) 2026.

Komitmen terhadap keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam program ini. Selama tiga bulan berturut-turut, PT Positon bersama **Karang Taruna Salawako Desa Wailukum** secara rutin melakukan pemantauan kondisi tanaman di lapangan.

Monitoring dilakukan untuk memastikan pertumbuhan mangrove berjalan optimal. Bibit yang ditemukan dalam kondisi tidak sehat, mengalami kerusakan, atau mati akan segera disulam dengan bibit baru.

Keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program tersebut. PT Positon menilai peran komunitas tidak hanya membantu menjaga tanaman, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami kawasan pantai dari abrasi sekaligus menjadi habitat bagi berbagai biota laut. Karena itu, keberadaan kawasan mangrove di Pantai Kasuari diharapkan dapat memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang bagi masyarakat Desa Wailukum.

“Monitoring Jalan Terus, Bibit Rusak Langsung Disulam”

Pengurus Karang Taruna Salawako sekaligus relawan monitoring dan penyulaman mangrove, Tarwin Torle, mengatakan kegiatan pemantauan dilakukan secara rutin dengan dukungan dari PT Positon.

Menurut Tarwin, setiap hasil monitoring yang dilaporkan kepada perusahaan langsung ditindaklanjuti, khususnya ketika ditemukan bibit yang membutuhkan penggantian.

“Setiap laporan monitoring yang kami serahkan selalu direspons dengan pengadaan bibit oleh pihak perusahaan. Jadi, bibit yang kondisinya tidak sehat, merana, atau mati bisa langsung kami pantau dan sulam kembali,” ujar Tarwin.

Ia menilai sinergi antara perusahaan dan masyarakat menjadi faktor penting agar program konservasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Dengan adanya monitoring dan penyulaman secara berkelanjutan, keberadaan 1.800 bibit mangrove yang telah ditanam di lahan sekitar 3.500 meter persegi diharapkan dapat terus terjaga hingga tumbuh menjadi kawasan mangrove yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Program ini sekaligus menjadi gambaran bahwa aksi lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam. Perawatan, pemantauan, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat konservasi dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Ke depan, kawasan mangrove baru di Pantai Kasuari diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu contoh pengelolaan ekosistem pesisir berbasis komunitas di Halmahera Timur.

Tinggalkan komentar