Daerah

Dua Tambang Bawah Tanah NHM Jadi Bahan Pembelajaran di Workshop Forkopindo

Serambi Timur Diterbitkan 22:12 WIT 3 menit membaca
Ukuran Teks:

BANJARBARU, SerambiTimur — Pengalaman PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) dalam mengelola tambang bawah tanah menjadi salah satu materi yang dibagikan kepada akademisi dan praktisi pertambangan dalam Workshop Forum Komunikasi Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Seluruh Indonesia (FORKOPINDO) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Principal Geotechnical NHM, Anas Abdul Latif, hadir sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan yang merupakan bagian dari Temu Nasional Tahunan XII Forkopindo dan Workshop Mata Kuliah (WMK), Senin (7/9/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung pada 4–9 September 2026 dengan mengusung tema “Transformasi Pendidikan Pertambangan: Menjawab Tantangan Ketahanan Energi dan Pengembangan Industri Nasional”.

Sebanyak 122 peserta dari 46 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia tercatat mengikuti pertemuan nasional tersebut. Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dan praktisi pertambangan untuk membahas perkembangan serta tantangan industri pertambangan.

Dalam sesi pemaparan, Anas membawa pengalaman operasional NHM sebagai bahan diskusi, khususnya terkait pengelolaan tambang bawah tanah di wilayah Gosowong.

Ia menjelaskan bahwa NHM saat ini mengoperasikan dua tambang bawah tanah, yaitu Tambang Bawah Tanah Kencana dan Tambang Bawah Tanah Toguraci. Kedua tambang tersebut memiliki karakteristik geologi dan tantangan teknis yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan operasional yang disesuaikan.

“Di Kencana, metode underhand cut and fill diterapkan dengan mempertimbangkan karakteristik endapan berkadar tinggi (high grade) serta kondisi batuan samping yang mudah rapuh,” ujar Anas.

Sementara untuk Toguraci, NHM menerapkan metode stoping. Salah satu tantangan teknis yang dihadapi adalah keberadaan akuifer hidrotermal dengan temperatur sekitar 80 derajat Celcius.

Selain menjelaskan karakteristik kedua tambang tersebut, Anas juga memaparkan pengalaman NHM mulai dari discovery outcrop di Gosowong, Toguraci, dan Kencana hingga siklus kegiatan penambangan bawah tanah di Gosowong.

Dalam aspek pengangkutan bijih emas atau ore, NHM menerapkan strategi berdasarkan tingkat prioritas. Material yang memiliki prioritas utama diangkut langsung menuju Rompad, sedangkan material dengan prioritas lebih rendah dikelola melalui proses rehandle.

Materi tersebut menjadi gambaran nyata bagi peserta mengenai bagaimana konsep dan teori pertambangan yang dipelajari di perguruan tinggi diterapkan dalam situasi operasional.

Dewan Pembina Forkopindo, Prof. Dr. Ir. Rudy Sayoga Gautama, M.Sc., IPU, mengatakan perkembangan teknologi dan industri pertambangan harus terus diikuti agar pendidikan pertambangan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa depan.

“Forkopindo memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia profesional bagi masa depan pertambangan Indonesia. Mari terus memperkuat kolaborasi dan mengikuti perkembangan teknologi serta kebutuhan industri pertambangan,” katanya.

GM Geology Resources & Support NHM, Denny Lesmana, turut menegaskan pentingnya keterhubungan antara dunia akademik dan praktik industri.

Menurutnya, tantangan pertambangan pada masa mendatang akan terus berkembang sehingga membutuhkan inovasi dan gagasan baru.

“Berbagi praktik industri diharapkan tidak hanya memberikan gambaran mengenai penerapan di lapangan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat belajar di kalangan mahasiswa sebagai calon generasi penerus industri pertambangan,” ungkap Denny.

Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan perusahaan pertambangan, terutama dalam riset, inovasi, serta pengembangan kompetensi SDM.

Kolaborasi itu diharapkan ikut mendukung perkembangan industri pertambangan Indonesia yang mengedepankan aspek keselamatan dan keberlanjutan.

Tinggalkan komentar