Menu

Mode Gelap

Daerah · 24 Sep 2025 10:18 WIT ·

Digitalisasi Parkir Ternate: Janji Modernisasi yang Masih Jadi Ilusi


 Digitalisasi Parkir Ternate: Janji Modernisasi yang Masih Jadi Ilusi Perbesar

TERNATE, SerambiTimur – Di atas panggung seremonial, Pemerintah Kota Ternate dengan bangga menyebut telah memasuki era baru: digitalisasi parkir. Dinas Perhubungan pun mengklaim bahwa sistem ini akan menghadirkan transparansi, akuntabilitas, sekaligus menjadi terobosan modern untuk menutup kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun, realitas di lapangan bercerita lain. Jauh dari kesan modern, praktik “digitalisasi” yang digembar-gemborkan ternyata hanya sebatas perubahan cara mencatat nomor kendaraan, bukan cara pembayaran. Uang tunai tetap berpindah tangan, karcis kertas tetap diberikan, dan publik pun bertanya-tanya: di mana letak transformasi digital yang sesungguhnya?

Klaim Digitalisasi yang Setengah Hati

Seorang akademisi Universitas Khairun Ternate, Dr. Aziz Hasyim, menilai apa yang disebut digitalisasi parkir di Ternate hanyalah ilusi. “Digitalisasi itu mestinya mengubah sistem manual menjadi digital secara menyeluruh, baik pencatatan maupun transaksinya. Kalau uang masih ditarik tunai, itu bukan digitalisasi,” tegasnya, Selasa (23/9/2025).

Aziz menyoroti bahwa sistem ini justru membuka celah kebocoran PAD semakin lebar. Tanpa penerapan pembayaran nontunai—seperti QRIS, aplikasi parkir, atau e-money—kontrol terhadap aliran retribusi menjadi mustahil. “Uang tunai adalah celah terbesar. Selama uang parkir masuk kantong petugas lebih dulu, jangan heran target pendapatan daerah tak pernah tercapai,” tambahnya.

Realitas di Lapangan

Investigasi SerambiTimur menemukan, memang benar petugas parkir kini dilengkapi perangkat untuk memindai nomor kendaraan. Namun setelah itu, proses pembayaran tetap kembali ke cara lama: karcis kertas dan uang tunai. Perbedaan paling mencolok hanyalah penampilan luar, bukan substansi.

“Ini hanya permainan istilah. Digitalisasi palsu. Publik disuguhi wajah baru, padahal praktik lama masih berjalan seperti biasa,” ujar Aziz.

Citra atau Substansi?

Bagi sebagian warga, program ini terasa lebih sebagai kosmetik birokrasi. Ada peluncuran, ada slogan, tetapi substansi perbaikan belum nyata. Transparansi yang dijanjikan masih jauh dari harapan, sementara kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah bisa kian terkikis.

“Kalau memang serius ingin digitalisasi, hilangkan uang tunai. Terapkan sistem pembayaran digital berbasis aplikasi atau kode QR, baru bisa bicara transparansi. Kalau tidak, ini hanya kamuflase,” kata Aziz menutup kritiknya.

Bola Panas di Tangan Pemkot

Kini, tantangan terbesar ada di pundak Pemerintah Kota Ternate: berani melangkah lebih jauh dengan meniadakan uang tunai, atau bertahan dengan praktik lama yang dibungkus jargon modernisasi. Jika memilih jalan kedua, bukan hanya PAD yang terus bocor, tetapi juga kredibilitas pemerintah yang ikut dipertaruhkan.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemkot Ternate Launching BSPS 2026, Warga Kastela Mulai Terima Bantuan Rumah Layak Huni

20 Mei 2026 - 16:23 WIT

Pemda se-Malut Sinkronkan Program Daerah dengan Asta Cita Presiden

20 Mei 2026 - 16:20 WIT

Sekda Ternate Dorong BP2RD Genjot PAD Lewat Digitalisasi

20 Mei 2026 - 09:44 WIT

Kasus Tunjangan DPRD Malut Rp139 Miliar Mandek, Kini Muncul Anggaran Perjalanan Dinas Rp46,3 Miliar

19 Mei 2026 - 15:04 WIT

TEGAS! Suarez Tolak Pembubaran dan Pelarangan Pemutaran Film “Pesta Babi”: “Ini Riset, Edukasi, dan Hak Masyarakat”

18 Mei 2026 - 16:04 WIT

Nonton Bareng Film “Pesta Babi” di Ternate, Akademisi dan Praktisi Hukum Soroti Ancaman Eksploitasi Alam dan Hak Masyarakat Adat

18 Mei 2026 - 16:02 WIT

Trending di Ternate