Menu

Mode Gelap

Daerah · 24 Jun 2026 12:04 WIT ·

Jalan yang Dibangun dari Kekecewaan: Ketika Suara Kemenangan Tak Sampai ke Malifut


 Jalan yang Dibangun dari Kekecewaan: Ketika Suara Kemenangan Tak Sampai ke Malifut Perbesar

HALUT, SerambiTimur — Akhirnya terbentang juga di Jalan Tani Pana Buru, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara. Namun jalan yang kini mulai memudahkan petani mengangkut hasil kebun itu tidak lahir dari program pemerintah ataupun realisasi janji pembangunan. Jalan itu tumbuh dari gotong royong, keringat, dan rasa kecewa masyarakat yang terlalu lama menunggu perhatian.

Masih lekat dalam ingatan warga Malifut suasana Pilkada Maluku Utara lalu. Saat itu, harapan membumbung tinggi seiring kemenangan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, Serly Tjoanda dan Sarbin. Banyak warga percaya perubahan akan datang, termasuk perbaikan Jalan Tani Pana Buru yang selama bertahun-tahun menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.

Harapan itu kini terasa jauh dari kenyataan.

Bagi warga tiga desa—Tomabaru, Sosol, dan Tahane—jalan tersebut bukan sekadar infrastruktur. Jalan itu merupakan urat nadi ekonomi yang menghubungkan lahan pertanian dengan pasar. Melalui akses itulah hasil kebun diangkut untuk menopang kehidupan banyak keluarga.

Kerusakan jalan sebenarnya bukan persoalan baru. Aspirasi perbaikannya berulang kali disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) maupun berbagai forum resmi lainnya. Namun tahun demi tahun berlalu tanpa realisasi yang berarti.

“Sudah tidak tahu lagi harus berteriak ke mana. Setiap tahun kami datang ke musrenbang dengan harapan yang sama. Setiap kesempatan kami sampaikan kebutuhan ini, tetapi yang kami terima hanya senyuman dan janji yang hilang begitu saja,” kata Hamsyah, salah seorang warga.

Ketika harapan pada pemerintah tak kunjung berbuah, masyarakat memilih bergerak sendiri. Bersama sejumlah pihak swasta yang bersedia membantu, mereka mengumpulkan sumber daya yang ada untuk membangun jalan tersebut secara swadaya.

Pekerjaan dimulai dari pembersihan lahan hingga pengecoran jalan. Tidak ada bantuan anggaran pemerintah yang mengalir ke proyek tersebut. Semua dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dukungan masyarakat.

Kepala Desa Tahane, Rafid U. Basyarun, menegaskan bahwa pembangunan Jalan Tani Pana Buru sepenuhnya merupakan hasil inisiatif warga dan dukungan pihak swasta.

“Mulai dari tahap awal sampai selesai, tidak ada dana pemerintah yang digunakan. Semua biaya berasal dari hasil swadaya masyarakat dan dukungan pihak swasta yang peduli terhadap kondisi kami,” ujar Rafid.

Kekecewaan warga tidak hanya diarahkan kepada pemerintah provinsi. Delapan anggota DPRD dari Daerah Pemilihan Kao–Malifut juga menjadi sorotan masyarakat karena dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam memperjuangkan kebutuhan infrastruktur yang selama ini menjadi aspirasi warga.

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Warga masih menunggu perhatian nyata dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat pedesaan, khususnya akses jalan yang menjadi tulang punggung aktivitas pertanian.

“Bukan hanya jalan yang kami butuhkan. Kami ingin merasa bahwa kami juga bagian penting dari Maluku Utara. Kami masih percaya Ibu Gubernur akan mendengar suara kami yang selama ini seakan terdiam,” kata Hamsyah.

Di tengah keterbatasan, keberhasilan membangun Jalan Tani Pana Buru menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masyarakat Malifut belum luntur. Namun di balik keberhasilan itu tersimpan pertanyaan yang belum terjawab: mengapa kebutuhan dasar yang telah lama diperjuangkan justru harus diwujudkan sendiri oleh warga?

Acalu, warga setempat, menyampaikan harapan yang mewakili banyak suara di Malifut.

“Semoga Pemerintah Provinsi Maluku Utara benar-benar melihat kondisi kami. Jalan yang kami bangun sendiri adalah bukti bahwa kami siap berjuang. Tetapi kami juga membutuhkan kehadiran pemerintah untuk membantu masyarakat yang selama ini menunggu perhatian,” ujarnya.

Jalan itu kini telah terbuka. Kendaraan pengangkut hasil kebun mulai melintas lebih mudah dibanding sebelumnya. Namun bagi warga Malifut, jalan tersebut bukan hanya hamparan aspal. Ia adalah simbol keteguhan masyarakat yang memilih bergerak ketika harapan terhadap pembangunan tak kunjung datang.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

NHM Peduli Antar Warga Kao Utara Sukses Jalani Operasi Jantung di Jakarta

23 Juni 2026 - 08:30 WIT

Di Bela Hotel Ternate: Gubernur Sherly Tekankan Data Akurat Kunci Kebijakan, Ajak Masyarakat Dukung Sensus Ekonomi 2026  

20 Juni 2026 - 13:56 WIT

Kolaborasi NHM dan Warga Kao Berbuah Manis, Pembibitan Mangrove Capai 4.300 Bibit

18 Juni 2026 - 18:23 WIT

Dua Hari Penuh Semangat, Expo Spensa 2026 Sukses Digelar

18 Juni 2026 - 09:33 WIT

Di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara: Infrastruktur dan SDM Jadi Kunci Pemerataan Manfaat Pembangunan

17 Juni 2026 - 22:37 WIT

Kepung Kejagung, GPM Minta JAMPIDSUS Usut Dugaan Korupsi DPRD Malut

16 Juni 2026 - 22:51 WIT

Trending di Daerah