TERNATE, SerambiTimur — Benteng Oranje kembali menjadi saksi penting perjalanan sejarah Ternate. Di kawasan cagar budaya yang lekat dengan sejarah rempah dunia itu, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 resmi dibuka, Rabu (26/8/2026).
Pembukaan Rakernas XII JKPI berlangsung meriah dan menjadi momentum bagi Ternate untuk menunjukkan kekayaan sejarah, budaya, pariwisata, hingga potensi ekonomi kreatif kepada ratusan delegasi dari berbagai penjuru Indonesia.
Mengusung tema “Ternate Episentrum Rempah Dunia”, perhelatan nasional tersebut diikuti sekitar 1.500 peserta yang mewakili 100 kota pusaka di Indonesia.
Ternate tidak hanya tampil sebagai tuan rumah, tetapi juga menjadikan forum tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan identitas kota yang sejak berabad-abad lalu memiliki posisi penting dalam sejarah perdagangan rempah dunia.
Dibuka Wali Kota, Dihadiri Perwakilan Belanda dan Kepala Daerah
Pembukaan Rakernas XII JKPI dihadiri sejumlah tamu penting, termasuk perwakilan Kedutaan Besar Belanda serta kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Rakernas secara resmi dibuka oleh Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman.
Di hadapan para delegasi, Tauhid menegaskan bahwa pertemuan kota-kota pusaka Indonesia tidak sekadar membahas warisan sejarah, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat persatuan bangsa.
“Rakernas XII JKPI ini adalah panggung diplomasi budaya untuk mengokohkan NKRI,” tegas Tauhid Soleman.
Pesan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat menjadi kekuatan diplomasi sekaligus sarana mempererat hubungan antardaerah di Indonesia.
Benteng Oranje, Dari Jejak Rempah ke Ruang Kreativitas
Pemilihan Benteng Oranje sebagai lokasi pembukaan Rakernas bukan tanpa alasan.
Benteng bersejarah tersebut menjadi salah satu simbol perjalanan panjang Ternate sebagai bagian penting dari sejarah rempah dunia. Di tempat ini, masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan sebagai bagian dari gagasan untuk membangun masa depan.
Sekretaris Kota Ternate sekaligus Ketua Panitia Rakernas XII JKPI, Dr. Rizal Marsaoly, SE., MM, yang akrab disapa RM76, mengatakan Benteng Oranje memiliki nilai sejarah sekaligus pesan kebangsaan yang kuat.
“Selain sebagai situs sejarah dan cagar budaya nasional, Benteng Oranje memiliki makna besar dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan negeri,” ujar Rizal.
Menurutnya, keberadaan kawasan bersejarah juga harus mampu memberi ruang bagi generasi muda untuk berkreasi.
“Keberadaan benteng ini bisa menjadi ruang aktivitas komunitas untuk mengasah ide dan gagasan mereka. Sebagai pemerintah, kami wajib menyiapkan ruang itu agar generasi muda dapat berkarya,” ungkapnya.
Puluhan Kepala Daerah Hadir di Ternate
Jaringan Kota Pusaka Indonesia saat ini beranggotakan 79 kepala daerah. Hingga pembukaan Rakernas, sebanyak 40 kepala daerah telah terkonfirmasi hadir di Ternate, sementara peserta lainnya dijadwalkan tiba sebelum rangkaian kegiatan berakhir pada 30 Agustus 2026.
Ribuan peserta memadati halaman Benteng Oranje. Suasana pembukaan berlangsung aman, tertib, dan penuh kehangatan.
Bagi para delegasi, kehadiran di Ternate menjadi kesempatan untuk melihat langsung kekayaan sejarah dan budaya kota yang namanya telah lama dikenal dalam perjalanan perdagangan rempah dunia.
“Ternate adalah kota kecil yang mendunia karena rempah dan semangat juang masyarakatnya,” ujar salah satu peserta dari Jawa.
Rakernas XII JKPI 2026 akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026, dengan sejumlah agenda, mulai dari diskusi kebijakan pengelolaan kota pusaka, pameran UMKM, hingga berbagai rangkaian diplomasi budaya antardaerah.
Melalui Rakernas XII JKPI, Ternate tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya kota-kota pusaka Indonesia. Ternate sedang menempatkan sejarah, budaya, dan rempah sebagai kekuatan untuk berbicara kepada Indonesia—bahkan kepada dunia.
