Ternate

Tauhid: Cagar Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi Ternate

Serambi Diterbitkan 14:00 WIT 4 menit membaca
Ukuran Teks:

TERNATE, SerambiTimur — Bagi Pemerintah Kota Ternate, cagar budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang harus dijaga. Warisan sejarah justru dipandang sebagai modal strategis untuk menggerakkan ekonomi, membuka lapangan kerja, menarik investasi, dan membangun kota secara berkelanjutan.

Gagasan tersebut disampaikan Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, saat menjadi pembicara dalam Simposium Internasional “Revitalisasi Cagar Budaya dan Investasi Pembangunan Perkotaan” di Hotel Bela Ternate, Kamis (27/8/2026).

Simposium tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) dan dihadiri sejumlah pembicara, termasuk perwakilan Duta Besar Kerajaan Belanda serta kepala daerah dari berbagai wilayah Indonesia.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, Tauhid menilai kebudayaan harus ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan. Pelestarian cagar budaya, menurutnya, tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan bangunan dan situs bersejarah, tetapi harus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Revitalisasi cagar budaya, kata dia, dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), menciptakan lapangan kerja, menghidupkan ekonomi kreatif, sekaligus membuka ruang bagi investasi.

Benteng Oranje Jadi Bukti

Tauhid mencontohkan revitalisasi Benteng Oranje sebagai salah satu bukti bahwa kawasan bersejarah dapat diubah menjadi ruang yang produktif tanpa kehilangan nilai sejarahnya.

“Salah satu bukti nyata yang telah kami tunjukkan adalah keberhasilan revitalisasi Benteng Oranje. Melalui penataan kawasan, pemanfaatan ruang publik, dan pemulihan lingkungan, situs bersejarah ini kini berubah menjadi ruang publik yang hidup, destinasi wisata sejarah dan budaya, sekaligus pusat aktivitas kreatif bagi masyarakat Ternate,” papar Tauhid.

Menurutnya, pendekatan semacam itu penting untuk memastikan cagar budaya tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Bukan hanya mempercantik kawasan, revitalisasi juga harus menciptakan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Perkuat Kelembagaan Cagar Budaya

Untuk menjaga keberlanjutan program tersebut, Pemkot Ternate juga memperkuat kelembagaan pengelolaan warisan budaya.

Salah satunya melalui pembentukan UPTD Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman berdasarkan Perwali Nomor 3 Tahun 2015.

Pemkot juga memisahkan Dinas Kebudayaan dari Dinas Pendidikan agar pengelolaan kebudayaan dapat dilakukan lebih fokus, termasuk terhadap museum dan benteng bersejarah yang menjadi bagian penting identitas Ternate.

Sejumlah aset yang menjadi perhatian antara lain Museum Memorial Kesultanan Ternate, Museum Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah, dan Museum Rempah-Rempah.

Langkah tersebut diarahkan agar pengelolaan situs dan museum tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif kota.

Triple Helix Jadi Kunci

Dalam membangun kota pusaka, Tauhid menekankan pentingnya kolaborasi tiga unsur atau Triple Helix.

Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator, masyarakat menjadi tuan rumah sekaligus pelaku utama, sedangkan sektor swasta ditempatkan sebagai mitra pengembang dan investor.

Konsep tersebut kemudian diperkuat dengan empat prinsip pariwisata berkelanjutan, yakni layak secara ekonomi, berwawasan lingkungan, dapat diterima secara sosial, dan tepat secara teknologi.

Dengan pendekatan itu, pengembangan kawasan pusaka diharapkan tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dari manfaat ekonomi yang tercipta.

Dorong Museum Jadi Pusat Kreativitas

Menutup pemaparannya, Tauhid menyampaikan sejumlah agenda strategis yang perlu didorong ke depan.

Di antaranya peningkatan fasilitas pendukung, perluasan kemitraan dan promosi, serta revitalisasi sejumlah museum seperti Museum Alfred Russel Wallace, Museum Rempah, dan Museum Memorial Kesultanan Ternate.

Ruang-ruang pusaka juga didorong untuk diaktifkan sebagai pusat kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda.

Di tingkat yang lebih luas, Pemkot Ternate ingin memperkuat kerja sama internasional sekaligus menyusun peta jalan diplomasi budaya sebagai bagian dari upaya membawa sejarah dan identitas Ternate ke panggung yang lebih luas.

Tauhid menegaskan, ukuran keberhasilan revitalisasi cagar budaya tidak semata-mata dilihat dari besarnya kontribusi langsung terhadap PAD.

“Revitalisasi cagar budaya memang mungkin bukan penyumbang terbesar PAD secara langsung. Namun potensinya luar biasa dalam menggerakkan ekonomi masyarakat dan daerah — melalui retribusi pemanfaatan serta berkembangnya usaha kreatif — tanpa pernah mengabaikan kaidah pelestarian dan konservasi yang menjadi jati dirinya,” tegas Tauhid.

Bagi Ternate, warisan sejarah kini tidak cukup hanya disimpan dan dikenang. Cagar budaya harus dihidupkan, dikelola secara kreatif, dan dijadikan kekuatan ekonomi—tanpa kehilangan akar sejarah yang membuatnya bernilai.

Tinggalkan komentar