HALTIM, SerambiTimur – Rabu pagi di Halaman Kantor Bupati Halmahera Timur, suasana terasa berat. Sekretaris Daerah Ricky Chairul Richfat berdiri di hadapan awak media, membawa kabar yang sudah lama ditakuti: pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pusat akhirnya jatuh seperti badai.
Defisit Rp473 miliar kini membayangi, sebuah angka yang cukup untuk mengguncang fondasi keuangan daerah. TKD—yang selama ini menjadi urat nadi pembangunan dan pelayanan publik—dipotong rata-rata 30 persen.
Namun, di balik kabar suram itu, Ricky berusaha menyalakan lilin kecil harapan. Ia menyebut Pemkab sudah menyiapkan strategi bertahan: efisiensi ketat, optimalisasi PAD, dan antisipasi yang jauh hari dipersiapkan.
“Kalau di daerah lain gaji pegawai mungkin terganggu, di Halmahera Timur masih bisa teratasi. Kami memangkas di beberapa sektor, tapi prioritas pelayanan publik tetap dijaga,” ujarnya.
Bagi masyarakat Halmahera Timur, defisit ini mungkin terdengar seperti angka dingin di atas kertas. Namun, bagi Pemkab, ini soal menjaga roda pembangunan tetap berputar meski bahan bakar fiskalnya menyusut drastis.
Di tengah badai pemangkasan, Ricky dan jajaran Pemkab mencoba membuktikan: Halmahera Timur bisa bertahan, bahkan berdiri tegak, meski harus berlayar di lautan defisit.














Tinggalkan Balasan