TERNATE, SerambiTimur — Di sudut Kelurahan Jati, Kecamatan Ternate Tengah, aroma nasi kuning Bunda Marni telah menjadi bagian dari rutinitas pagi warga. Marni (38), perempuan asal Lombok, telah berjualan nasi kuning sejak 2008 demi membantu suami dan membiayai pendidikan keempat anaknya.
Suaminya bekerja sebagai tukang ojek, sementara Marni mengandalkan lapak nasi kuningnya yang buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIT hingga habis, biasanya sekitar pukul 13.00 WIT. “Alhamdulillah, keuntungan lumayan. Kalau ramai, bisa sampai satu juta per hari,” ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Anak pertama Marni kini kuliah di Universitas Khairun Ternate, jurusan Teknik Sipil. Anak kedua dan ketiga masih duduk di bangku SMP dan SD, sementara si bungsu belum bersekolah.
Nasi kuning “Bunda Marni” dijual mulai Rp10 ribu hingga Rp25 ribu. Paket termahal sudah dilengkapi telur, ikan, abon, masa kering kayu, dan sambal. Pesanan juga bisa dilakukan melalui WhatsApp di nomor 0853-4153-5374.
“Kalau yang Rp10 ribu biasanya dibeli anak sekolah, sedangkan Rp25 ribu itu paket komplit,” jelasnya. Ketekunan Marni bukan hanya menghidupi keluarga, tapi juga membuktikan bahwa usaha sederhana bisa menjadi penopang ekonomi rumah tangga.














Tinggalkan Balasan