Ternate

Bau WC Menyengat di KMP Lema

Serambi Diterbitkan 14:46 WIT 2 menit membaca
Ukuran Teks:

SOFIFI, SerambiTimur — Perjalanan dengan KMP Lema dari Sofifi menuju Ternate semestinya menjadi rutinitas biasa. Namun, bagi sebagian penumpang, perjalanan itu justru menjadi ujian menahan napas.

Keluhan tentang bau tak sedap yang berasal dari kamar kecil atau WC di kapal feri tersebut kembali mencuat. Bau menyengat itu tak hanya bertahan di sekitar toilet, tetapi merambat ke ruang penumpang hingga geladak kapal.

Sejumlah penumpang mengaku terpaksa menutup hidung sepanjang perjalanan. Anak-anak menjadi rewel, sementara penumpang lanjut usia tampak kesulitan menahan aroma yang menusuk. Ruang yang seharusnya menjadi tempat beristirahat selama penyeberangan berubah menjadi tidak nyaman.

Antho, salah seorang penumpang, mengatakan persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi. Ia bahkan menyebut keluhan serupa sudah berulang.

“Ini sudah berkali-kali terjadi, bukan sekali dua. Baunya dari WC menyebar ke mana-mana, sampai tidak enak duduk di mana pun di atas kapal. Kami bayar tiket untuk menyeberang dengan nyaman, bukan untuk menahan napas sepanjang perjalanan,” ujar Antho setelah menurunkan barang di Pelabuhan Ternate, Minggu, 9 Agustus 2026.

Menurut dia, persoalan tersebut semestinya tidak sulit diatasi jika kebersihan dan perawatan fasilitas kapal mendapat perhatian serius dari pengelola. Karena itu, ia meminta instansi yang berwenang tidak membiarkan keluhan penumpang berulang tanpa penyelesaian.

“Saya meminta pihak berwenang segera menegur pemilik kapal ini. Kapal penumpang bukan sekadar mengantar orang dari pelabuhan ke pelabuhan—kenyamanan dan kebersihan juga bagian dari pelayanan yang wajib dipenuhi. Jangan biarkan hal kecil ini terus mengganggu ribuan orang yang menyeberang setiap harinya,” kata Antho.

KMP Lema merupakan salah satu kapal feri yang melayani jalur Sofifi–Ternate, dua wilayah yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, dan jasa di Maluku Utara. Setiap hari, kapal ini digunakan beragam kalangan, mulai dari pelajar, pekerja, pedagang hingga pejabat.

Karena itu, persoalan kebersihan di atas kapal bukan sekadar soal aroma yang mengganggu. Bagi penumpang, kondisi tersebut menyangkut kualitas pelayanan dalam perjalanan yang menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Maluku Utara.

Jika tidak segera dibenahi, keluhan yang sama berpotensi terus berulang. Apalagi, bagi masyarakat yang menjadikan KMP Lema sebagai salah satu moda transportasi utama, pilihan untuk menghindari perjalanan tersebut tidak selalu tersedia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pengelola maupun pemilik KMP Lema mengenai keluhan penumpang tersebut.

Para penumpang berharap persoalan ini menjadi perhatian serius pihak terkait. Mereka tidak meminta lebih dari perjalanan yang layak: kapal yang terawat, fasilitas yang bersih, dan penyeberangan yang nyaman hingga tiba di tujuan.

Tinggalkan komentar