Menu

Mode Gelap

Daerah · 13 Feb 2026 17:38 WIT ·

Pakar Hukum: Ukuran Kepatutan Tunjangan DPRD Akan Diuji Penyidik


 Hendra Karianga Perbesar

Hendra Karianga

TERNATE, SerambiTimur – Polemik tunjangan DPRD Maluku Utara yang kini masuk tahap penyidikan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Malut mendapat sorotan dari pakar hukum Hendra Karianga. Ia menilai pernyataan pengacara Junaidi menunjukkan ketidakpahaman terhadap sistem tata kelola keuangan negara.

Hendra menegaskan, jika ingin membedah persoalan ini, harus merujuk secara utuh pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mewajibkan pengelolaan keuangan negara dilakukan secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.

“Apakah saat itu penganggaran belanja DPRD dalam APBD Maluku Utara sudah memenuhi prinsip-prinsip tersebut? Itu yang harus dijawab,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur pertanggungjawaban keuangan negara juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004. Secara hierarkis, Gubernur adalah penanggung jawab utama, dengan delegasi kepada pejabat teknis sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Dalam lingkungan DPRD, Sekretaris Dewan (Sekwan) merupakan pejabat pengelola keuangan sekaligus KPA.

“Sekwan menyusun perencanaan anggaran tahunan, termasuk tunjangan. Ia memiliki pintu masuk dan keluar kas daerah DPRD. Jadi bukan sekadar juru bayar,” tegas Hendra.

Lebih lanjut, ia menyinggung ketentuan PP Nomor 12 Tahun 2019 serta PP Nomor 18 Tahun 2017 yang telah diubah melalui PP Nomor 1 Tahun 2023. Regulasi tersebut secara tegas menyatakan bahwa tunjangan DPRD harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

“Apakah saat pandemi Covid-19, dengan kondisi fiskal yang menurun, daerah mampu dan patut menganggarkan hampir Rp150 miliar untuk tunjangan DPRD? Ukuran kepatutan dan kewajaran inilah yang sedang diuji,” katanya.

Menurut Hendra, penilaian itu akan dilakukan oleh BPKP sebagai auditor yang digunakan Kejaksaan dalam proses penyidikan.

Ia mengaku memiliki pengalaman 15 tahun di DPRD dan pernah berada di Badan Anggaran, sehingga memahami mekanisme penganggaran secara detail.

“Saya tahu bagaimana mekanismenya. Sekwan tidak bisa lepas tangan. Dia bertanggung jawab secara hukum,” ujarnya.

Hendra pun mengapresiasi langkah Kejati Malut yang telah meningkatkan perkara ini ke tahap penyidikan dan optimistis penyidik akan mengumumkan pihak-pihak yang bertanggung jawab.

“Korupsi keuangan negara itu dilakukan secara berjamaah, bergerombolan, dan pelakunya bukan tunggal,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Demo di Kemenag dan KPK, FAKI RI Desak Copot Kakanwil Kemenag Malut

26 Juni 2026 - 08:38 WIT

Menjelang Rakernas JKPI, Sekda Ternate Ingatkan ASN: Disiplin adalah Wajah Pelayanan Publik

24 Juni 2026 - 20:13 WIT

Jalan yang Dibangun dari Kekecewaan: Ketika Suara Kemenangan Tak Sampai ke Malifut

24 Juni 2026 - 12:04 WIT

GPM Malut Jilid II Kepung Kejagung dan KPK, Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Korupsi Tunjangan DPRD Rp139,2 Miliar

23 Juni 2026 - 16:09 WIT

NHM Peduli Antar Warga Kao Utara Sukses Jalani Operasi Jantung di Jakarta

23 Juni 2026 - 08:30 WIT

Di Bela Hotel Ternate: Gubernur Sherly Tekankan Data Akurat Kunci Kebijakan, Ajak Masyarakat Dukung Sensus Ekonomi 2026  

20 Juni 2026 - 13:56 WIT

Trending di Daerah