SOFIFI, SerambiTimur — Angin sore dan malam di Sofifi membawa semangat baru di setiap bendera yang berkibar di kilometer 40 kota Sofifi. Di tengah lautan manusia yang bersorak, Gubernur Sherly Tjoanda berdiri tegap, menyampaikan pesan penuh makna: “Maluku Utara harus menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakatnya.”
Ucapannya bukan sekadar retorika seremonial, melainkan cerminan tekad untuk membawa Maluku Utara keluar dari bayang-bayang ketertinggalan menuju era transformasi digital dan kolaboratif.
Dalam usia ke-26, Sherly menandai momentum ini sebagai titik balik — di mana pembangunan tak lagi hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga kemanusiaan, teknologi, dan inovasi.
Di sektor pendidikan, Pemprov Maluku Utara memperluas akses beasiswa dan menerapkan sistem digitalisasi pembelajaran di wilayah kepulauan. Di bidang kesehatan, telemedicine hadir sebagai solusi layanan jarak jauh bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil. Sementara dalam dunia ekonomi kreatif, pelatihan dan dukungan bagi UMKM terus digencarkan agar produk lokal mampu bersaing di pasar nasional.
Wakil Gubernur H. Sarbin Sehe menambahkan semangat kolaboratif menjadi pondasi utama pembangunan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami libatkan akademisi, komunitas, dan pelaku usaha agar transformasi ini benar-benar menyentuh masyarakat,” ucapnya.
Puncak perayaan diwarnai pawai budaya, pameran UMKM, dan peluncuran program Malut Smart Province — simbol transformasi digital Maluku Utara menuju tata kelola pemerintahan yang transparan dan efisien.
Bagi Sherly, HUT ke-26 bukan sekadar peringatan, tetapi refleksi untuk menatap masa depan dengan tekad baru.
“Maluku Utara bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga harus kaya ide, inovasi, dan solidaritas. Itulah kunci menjadi provinsi yang mandiri dan maju,” tutupnya.
Sofifi sore itu menjadi saksi: semangat inovasi dan kolaborasi kini berdenyut di nadi Maluku Utara.














Tinggalkan Balasan