Ternate, Serambitimur – Pembangunan Masjid Ali Akbar di Kelurahan Tabona, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, yang menelan anggaran APBD Provinsi Maluku Utara sebesar Rp2 miliar, menuai kekecewaan warga. Proyek yang dikerjakan CV Zhafirah Persada sejak Mei 2023 itu mangkrak, meninggalkan bangunan setengah jadi yang kini ditumbuhi rumput liar.
Pantauan di lokasi pada Rabu (22/1), masjid yang seharusnya menjadi pusat ibadah umat Islam itu belum bisa digunakan. Warga setempat mendesak agar pembangunan segera dilanjutkan sehingga dapat dipakai untuk salat di bulan suci Ramadan 1446 H, yang akan dimulai awal Maret mendatang.
“Dengan anggaran sebesar itu, kami berharap masjid ini cepat selesai. Kami ingin menggunakannya saat Ramadan, tapi kenyataannya proyek ini terhenti tanpa kejelasan. Kontraktor hanya bekerja sampai tahap ini, dan kami tidak tahu alasannya,” keluh seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kendala Keuangan Jadi Alasan Mangkraknya Proyek
Plt Kepala Dinas PUPR Malut, Sofyan Kamarullah, mengungkapkan bahwa proyek ini terhenti karena kontraktor hanya menerima uang muka sebesar Rp400 juta dari total anggaran. Akibatnya, progres pekerjaan baru mencapai 31,73 persen.
“Bangunan itu sebenarnya belum gagal, masih dalam kategori pekerjaan dalam proses (KDP). Namun, karena anggaran belum sepenuhnya cair, proyek belum bisa diselesaikan,” jelas Sofyan.
Ia menambahkan bahwa kondisi keuangan daerah yang tidak stabil menjadi penyebab utama lambatnya pencairan dana, sehingga kontraktor kesulitan melanjutkan pekerjaan.

“Kontraktor akhirnya bersepakat dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk mengakhiri kontrak karena proses pencairan dana terlalu lama. Ini menjadi kendala utama,” imbuhnya.
Tak Masuk Prioritas Tahun 2025
Menurut Sofyan, Dinas PUPR tidak akan melanjutkan pembangunan masjid ini pada tahun 2025 karena keterbatasan anggaran, ditambah beban utang daerah yang mencapai Rp217 miliar. Namun, ia berjanji untuk melanjutkan proyek ini pada 2026 jika kondisi keuangan daerah kembali stabil.
“Pembangunan ini membutuhkan waktu dan dana besar, sehingga kami harus menunggu kondisi keuangan daerah membaik. Ini bukan proyek mangkrak, tapi tertunda karena alasan teknis dan finansial,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar masjid ini dapat diselesaikan, mengingat pentingnya fasilitas ibadah bagi masyarakat setempat.














Tinggalkan Balasan