TERNATE, SerambiTimur- Bau menyengat menusuk hidung ketika mendekati Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Ternate. Sejak 2022, fasilitas vital untuk mengolah limbah medis itu mengalami kerusakan total. Sayangnya, hingga kini belum ada penanganan serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate.
Dampaknya, limbah medis cair atau limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menumpuk selama lebih dari satu tahun. Pantauan media ini di lokasi memperlihatkan bagaimana limbah cair hasil aktivitas laboratorium—termasuk sisa bahan kimia dan limbah biologis seperti darah—terpaksa disimpan dalam kantong plastik karena sistem pengolahan tak lagi berfungsi.
Tak berhenti di situ, limbah padat pun ikut menumpuk di tempat penampungan sementara sejak Februari 2024. Kondisi ini bukan hanya memperburuk lingkungan, tetapi juga memicu ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat.
Salah satu petugas Labkesda yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, persoalan ini dipicu masalah internal di Dinkes, khususnya terkait keterlambatan pembayaran gaji petugas pengangkut limbah. Di sisi lain, hingga kini Pemkot Ternate belum juga mengambil langkah konkret untuk memperbaiki IPAL yang rusak.
“Masalahnya bukan hanya di IPAL. Layanan laboratorium juga ikut lumpuh karena kekurangan reagen. Alat-alat canggih seperti PCR, GCMS, dan Hematology Analyzer tidak bisa berfungsi maksimal tanpa bahan kimia untuk pemeriksaan,” ujarnya.
Kerusakan IPAL yang dibiarkan berlarut-larut ini menjadi ancaman nyata. Tanpa solusi cepat, tumpukan limbah medis di Labkesda berpotensi menimbulkan dampak serius, baik bagi kesehatan masyarakat maupun kelestarian lingkungan di Kota Ternate.














Tinggalkan Balasan