Ternate, SerambiTimur — Di tengah gempita angka pertumbuhan ekonomi dua digit, suara kritis datang dari ekonom Universitas Khairun Ternate, Mukhtar A. Adam. Ia menyebut keberhasilan ekonomi Maluku Utara di bawah Gubernur Serly Tjoanda sebagai “Glowing Palsu”—kilau semu yang menutupi luka sosial masyarakatnya.
Menurut Mukhtar, laju ekonomi tinggi bukanlah tanda kemakmuran sejati. “Kita disuguhi data pertumbuhan fantastis, tapi lupa melihat realitas rakyat. Pertumbuhan ini hanya memperkaya segelintir orang, bukan mengangkat kehidupan masyarakat,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi Maluku Utara seperti wajah yang tampak bersinar karena polesan kosmetik, namun menyembunyikan kulit yang rusak di bawahnya. “Ekonomi skincare, hanya indah di permukaan,” sindirnya.
Sektor pertambangan dan industri memang tumbuh pesat berkat derasnya arus investasi, namun di sisi lain, sektor tradisional seperti pertanian dan perikanan—yang menjadi tumpuan mayoritas masyarakat—nyaris tak bergerak. Ketimpangan itu, menurut Mukhtar, menjadi bukti bahwa pertumbuhan tidak menyentuh akar ekonomi rakyat.
Lebih tajam lagi, ia mengkritik pola pembangunan yang disebutnya sebagai “party economy”—gaya belanja publik yang gemar menggelar seremoni, proyek-proyek besar, dan kegiatan elitis tanpa nilai keberlanjutan. “Kita membangun simbol, bukan kesejahteraan. Pemerintah seolah sibuk menampilkan citra, bukan memperbaiki kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Mukhtar juga menyoroti ketergantungan pada industri nikel yang didominasi investor luar dan tenaga kerja asing. “Kita hanya menjual sumber daya alam tanpa nilai tambah signifikan. Yang kita dapat hanya kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial,” tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan keras: jika arah pembangunan tidak segera dikoreksi, maka ledakan sosial tinggal menunggu waktu. “Pertumbuhan tanpa keadilan adalah resep pasti menuju perpecahan. Maluku Utara harus bangun dari ilusi ekonomi semu,” pungkas Mukhtar.



















Tinggalkan Balasan