TERNATE, SerambiTimur- Di balik hiruk-pikuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi Maluku Utara 2026, satu cabang olahraga kembali diproyeksikan menjadi penentu nasib Ternate di arena perebutan gelar juara umum: tinju.
Bagi Nasri Abubakar, olahraga bukan semata soal menang dan kalah di atas arena. Tinju, kata dia, adalah harga diri daerah. Sebuah panggung untuk menunjukkan bahwa Ternate mampu berdiri sejajar dan diperhitungkan di tingkat nasional.
Karena itu, persiapan menuju Porprov Maluku Utara 2026 tak dilakukan setengah hati.
Sudah empat bulan terakhir, para petinju Ternate digembleng tanpa jeda. Latihan berlangsung rutin, disiplin dijaga ketat, fisik dibentuk, mental ditempa. Tak ada istilah menunggu musim kompetisi.
“Persiapan atlet itu bukan kerja musiman. Ini budaya kerja yang harus dilakukan setiap waktu,” ujar Nasri.
Sebagai Ketua Pengurus Daerah Persatuan Tinju Amatir Indonesia Kota Ternate, Nasri memahami benar tradisi panjang tinju Ternate. Selama bertahun-tahun, cabang olahraga ini kerap menjadi lumbung emas sekaligus penentu gelar juara umum bagi Kota Ternate dalam setiap ajang Porprov.
Tradisi itulah yang kini ingin dipertahankan.
Sebanyak 11 petinju — tujuh putra dan empat putri — dipersiapkan untuk turun di Porprov yang dijadwalkan mulai bergulir pada 1 Juni mendatang. Mereka disebut sebagai hasil seleksi ketat dan pembinaan jangka panjang.
Target yang dipasang pun tidak tanggung-tanggung: minimal 10 medali emas.
Bahkan, Nasri memiliki harapan yang lebih besar dari sekadar emas.
“Saya ingin semua atlet yang kami kirim bisa naik podium,” katanya.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Dalam catatan olahraga Maluku Utara, tinju Ternate hampir selalu tampil dominan. Dari generasi ke generasi, olahraga adu pukul ini melahirkan atlet-atlet yang membawa nama daerah hingga level nasional.
Namun jalan menuju kemenangan tidak sepenuhnya mulus.
Dalam sejumlah pertemuan olahraga daerah, persoalan klasik kembali muncul: keterbatasan fasilitas pertandingan dan minimnya dukungan anggaran. Keluhan itu bahkan sempat mengemuka dalam agenda KONI di Bandara Sultan Babullah.
Nasri tidak menampik masalah tersebut. Ia mengakui olahraga daerah masih menghadapi banyak keterbatasan. Tetapi baginya, kondisi itu tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.
“Keterbatasan memang ada. Tapi semangat atlet dan pembinaan tidak boleh ikut terbatas,” ujarnya.
Di tengah segala kekurangan itu, Ternate kembali menggantungkan harapan pada ring tinju — tempat di mana ambisi, harga diri, dan nama besar daerah dipertaruhkan.














Tinggalkan Balasan