HALSEL, SerambiTimur – Di pesisir Desa Tuwokona, angin laut membawa harapan baru. Deru alat berat kembali terdengar di kawasan proyek Pelabuhan Semut, tanda bahwa pembangunan yang sempat mandek kini mulai bergerak lagi. Namun di balik optimisme itu, bayangan krisis keuangan daerah masih menghantui.
Pelabuhan yang digadang-gadang menjadi simpul ekonomi baru Halmahera Selatan ini menelan biaya Rp58,47 miliar. Setelah beberapa bulan terhenti akibat macetnya pendanaan, proyek tersebut kini dilanjutkan dengan target rampung Desember 2025.
Kepala Dinas PUPR Halsel, Idham Pora, tak menampik bahwa persoalan fiskal menjadi akar dari keterlambatan tersebut.
“Kita tidak bisa menutup mata. Pemangkasan anggaran daerah sebesar Rp109 miliar melalui PMK benar-benar memukul kemampuan keuangan daerah,” ujarnya.
Situasi ini membuat pemerintah daerah kesulitan membayar termin pekerjaan tepat waktu. Meski demikian, sebagian dana sudah dialokasikan lewat APBD Perubahan 2025, memungkinkan pekerjaan kembali berjalan.
“Kita sudah bayar separuh dari kontrak. Rekanan bekerja sesuai progres, kita bayar sesuai prestasi,” jelas Idham.
“Kami pastikan proyek ini selesai Desember 2025. Tidak ada alasan untuk berhenti lagi.”
Pembangunan pelabuhan ini meliputi dermaga utama, terminal penumpang, dan pelabuhan speed. Namun beberapa item pekerjaan — seperti landscape dan pagar pelabuhan — harus ditunda akibat adanya Contract Change Order (CCO).
Masalah Pelabuhan Semut hanyalah potongan kecil dari tantangan fiskal besar yang dihadapi Pemda Halsel. Dua proyek multiyears lain — pembangunan jalan dan jembatan Labuha serta kawasan strategis ekonomi — juga masih menyisakan utang hingga Rp28,58 miliar.
“Utang ini akan kita selesaikan bertahap sampai 2026. Tahun ini baru separuh yang bisa dibayar,” ungkap Idham.
Masyarakat berharap agar proyek ini benar-benar tuntas sesuai janji. Sebab, pelabuhan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi ekonomi yang dapat membuka akses transportasi laut, memperkuat konektivitas antarpulau, dan mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir.
Di tengah keterbatasan fiskal, pekerjaan di Tuwokona terus berjalan. Setiap ayunan palu dan dentuman alat berat menjadi simbol keteguhan: meski keuangan seret, janji pembangunan harus ditepati.














Tinggalkan Balasan