PULAU OBI – Industri tambang di Pulau Obi tidak hanya menghadirkan investasi dan lapangan kerja, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan sektor pertanian lokal. Salah satu contohnya adalah gerakan “Petani Milenial” yang digagas Darwan Aduhasan (33), petani muda asal Desa Buton.
Sarjana komunikasi ini memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk bertani, alih-alih mengikuti arus bekerja di perusahaan tambang. Keputusan itu kini berbuah manis: kelompok tani yang dipimpinnya menjadi pemasok puluhan ton buah dan sayur bagi kebutuhan pangan karyawan Harita Nickel.

“Sektor pertanian di Obi sangat potensial. Selama 15 tahun keluarga kami hidup dan membiayai pendidikan hingga sarjana dari hasil kebun. Kini, dengan adanya industri, kami justru punya kepastian pasar,” kata Darwan.
Untuk memperkuat gerakan tersebut, ia membentuk kelompok tani PELANGI (Petani yang Menjunjung Tinggi Nilai Persatuan dan Gotong Royong). Kelompok ini bertujuan membangun kedaulatan pangan di lingkar tambang sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa bekerja layak tidak harus selalu di area perusahaan.

Kolaborasi dengan Harita Nickel dimulai pada 2022 melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Dari lahan awal 2 hektare, kelompok binaan seperti Daun Hijau dan Cempaka berhasil menghasilkan 7–8 ton semangka per hektare.
Memasuki 2024, seluruh proses budidaya beralih ke sistem organik atas dorongan perusahaan. Petani mendapat pendampingan CSR dalam pembuatan kompos dan pestisida nabati.
“Biaya produksi jauh lebih hemat. Dengan modal Rp250.000, kami bisa panen 2,75 ton semangka organik murni,” ungkap Darwan, penerima Penghargaan Pengembangan Desa Berkelanjutan 2024 dari Kemendes.
Seluruh hasil panen kini disalurkan ke katering perusahaan untuk memenuhi konsumsi ribuan karyawan. Model kemitraan ini dinilai menciptakan hubungan ekonomi yang berkelanjutan dan saling menguatkan.
Ke depan, program perluasan lahan terus digencarkan. Dari 28 petani aktif saat ini, Darwan menargetkan 100 petani pada 2026, dengan pengembangan komoditas sawah, hortikultura, dan buah-buahan.
“Pertanian bukan sektor pinggiran. Di tengah kawasan tambang pun, ia bisa menjadi penopang ekonomi yang kuat dan berkelanjutan,” tegas Darwan.












Tinggalkan Balasan