Ternate, SerambiTimur — Sejak dimulai pada tahun 2018, _Madrasah Young Researchers Supercamp_ (MYRES) telah menghasilkan 40.053 proposal penelitian, melibatkan sekitar 80.000 peneliti muda, menciptakan 30 hak cipta, beberapa software aplikasi, 2 hak paten, dan sekitar 700 publikasi penelitian. Hal ini disampaikan oleh pencetus MYRES Kementerian Agama, Anggoro Tri Mursito, dalam Talkshow KSM dan MYRES 2024 yang digelar pada Kamis (05/09/2024) di Aula Raudha Asrama Haji Transit, Ternate.
Anggoro, yang juga seorang peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menekankan pentingnya memberi ruang kepada siswa madrasah untuk mengembangkan ide mereka sendiri. “Terkadang hal kecil bagi siswa-siswi madrasah justru bisa menjadi temuan baru,” ujarnya.
Ia juga berharap MYRES dapat terus melahirkan peneliti muda yang berasal dari madrasah, membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di tingkat internasional. Awalnya, MYRES hanya diikuti oleh siswa Madrasah Aliyah (MA), namun kini juga melibatkan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), baik negeri maupun swasta.
Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Nurul Azkiyah, juga menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis (_critical thinking_) dan memfilter informasi di era digital. “Tugas pengajar adalah mengarahkan anak didik agar mampu berpikir kritis dan memahami sumber informasi yang benar,” jelasnya.
Nurul menambahkan bahwa membaca adalah langkah penting dalam melakukan penelitian, baik dari sumber fisik maupun digital seperti buku, jurnal, dan artikel. “Dengan kompetisi ini, kita bisa menghasilkan generasi peneliti muda yang peka lingkungan dan berpola pikir ilmiah,” tutupnya.














Tinggalkan Balasan