Halsel, SerambiTimur – Helmi Umar Muhksin, yang kini menjadi Calon Wakil Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) pada Pilkada 2024, pernah melontarkan sindiran keras terkait politik dinasti dalam sebuah kampanye pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Halsel 2020. Pernyataan ini viral di media sosial, khususnya grup WhatsApp.
Dalam kampanye yang berlangsung di Desa Jikotamo, Kecamatan Obi, Helmi menyinggung sistem demokrasi yang menurutnya seringkali diwarnai oleh uang dan politik dinasti. “Kitorang bukan penganut demokrasi yang hanya memberi kekuasaan kepada orang yang punya uang, atau kepada anak yang harus mewarisi jabatan,” ucap Helmi, menyindir Hasan Ali Bassam Kasuba dan ayahnya, Muhammad Kasuba, yang saat itu bersaing dalam Pilkada Halsel 2020.
Helmi Umar Muhksin saat itu mencalonkan diri sebagai Bupati bersama Laode Arfan sebagai Wakil Bupati, berhadapan dengan pasangan Usman Sidik dan Hasan Ali Bassam Kasuba. Helmi secara tegas menyatakan bahwa jabatan kepala daerah atau wakil kepala daerah tidak pantas dipegang oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi.
“Kalau anak itu tidak punya kemampuan, harus jadi? Demokrasi sejatinya adalah kekuasaan yang diberikan oleh rakyat, bukan oleh siapa pun,” tegas Helmi. Ia juga mengkritik rezim pemilu yang dianggap membingungkan masyarakat dan memunculkan pesimisme.
Helmi kemudian membahas perbedaan antara Pemilu tingkat nasional dan daerah. Ia menjelaskan bahwa pemilu nasional, seperti Pilpres dan Pemilihan DPR, berbeda dengan Pilkada yang bersifat lokal, baik dari segi aturan, sistem, maupun kewenangan.
Pernyataan Helmi tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial, memunculkan kembali perdebatan mengenai politik dinasti menjelang Pilkada Halsel 2024.



















Tinggalkan Balasan