Menu

Mode Gelap

Halut · 9 Mei 2026 07:39 WIT ·

Pendakian di Tengah Status Waspada: Tragedi Dukono dan Pertanyaan tentang Kelalaian


 Pendakian di Tengah Status Waspada: Tragedi Dukono dan Pertanyaan tentang Kelalaian Perbesar

HALUT, SerambiTimur- Langit di atas Gunung Api Dukono masih diselimuti kabut tebal ketika konferensi pers digelar di ruang vicon Polres Halmahera Utara, Jumat malam, 8 Mei 2026.

Di hadapan wartawan, sejumlah pejabat duduk berjejer: Piet Hein Babua, Kapolres Halmahera Utara Erlichson Pasaribu, Dandim 1508/Tobelo, Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani, hingga petugas Pos Pemantauan PVMBG Desa Mamuya.

Mereka membahas satu hal: tragedi pendakian Gunung Dukono.

Gunung api berstatus Level II Waspada itu kembali memakan korban.

Sebanyak 20 orang diketahui melakukan pendakian ke kawasan Dukono. Dari jumlah itu, 15 orang berhasil dievakuasi pada Jumat sore sekitar pukul 18.00 WIT. Terdiri dari tujuh warga negara Singapura dan delapan warga lokal, mereka langsung dibawa ke RSUD Tobelo untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun situasi belum sepenuhnya aman.

Tiga orang masih berada di kawasan gunung. Dua di antaranya merupakan WNA asal Singapura yang diduga meninggal dunia, sementara satu warga Indonesia masih belum diketahui keberadaannya.

“Informasi dari rekan korban menyebut dua WNA itu meninggal dunia. Tetapi kami belum bisa memastikan karena tim belum menemukan korban,” kata Iwan Ramdani.

Tim SAR sebenarnya telah mengetahui titik keberadaan dua WNA tersebut. Namun cuaca buruk, kabut pekat, dan kondisi malam hari membuat proses evakuasi dihentikan sementara dan dilanjutkan esok pagi.

Di balik tragedi ini, muncul pertanyaan penting: mengapa pendakian tetap dilakukan padahal status gunung masih waspada?

Petugas Pos Pemantauan PVMBG Mamuya menegaskan, sejak 3 April 2026 pihaknya telah mengeluarkan rekomendasi larangan mendekati kawah dalam radius empat kilometer.

“Peringatan itu belum dicabut sampai sekarang,” ujarnya.

Yang lebih mengejutkan, tidak ada laporan resmi dari rombongan pendaki kepada pos pemantauan sebelum naik ke gunung.

“Sehingga kami tidak mengetahui ada aktivitas pendakian,” kata petugas itu.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menyatakan pihaknya akan menyelidiki kemungkinan adanya unsur kelalaian dari pemandu maupun porter.

“Jika terbukti ada kelalaian yang menyebabkan korban jiwa, maka porter dan pemandu dapat diproses pidana,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Kedutaan Singapura di Jakarta. Pihak kedutaan dijadwalkan tiba di Tobelo pada Sabtu pagi.

Pemkab Halut juga memastikan seluruh korban luka mendapat perawatan intensif dan menyiapkan fasilitas penginapan sementara sebelum dipulangkan ke Ternate maupun Jakarta.

Namun hingga malam itu, harapan belum sepenuhnya padam.

Di lereng Dukono yang masih bergolak, tim SAR bersiap kembali naik.

Mencari tiga orang yang belum kembali.

Dan mungkin, mencari jawaban atas tragedi yang seharusnya bisa dicegah.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kapolres Halsel Tegaskan Komitmen Tindak Tambang Ilegal di Kubung dan Kusubibi

8 Mei 2026 - 19:37 WIT

NHM Peduli Bangun Fasilitas Air Bersih di Dusun Kobok, 21 Rumah Kini Nikmati Akses Langsung

7 Mei 2026 - 13:32 WIT

NHM Bangun Rumah Layak untuk Lansia di Kao, Dukung Program Pengentasan RTLH

23 April 2026 - 13:28 WIT

Janji Kursi HIPMI Malut Berujung Laporan Polisi, Uang Rp130 Juta Raib

21 April 2026 - 18:54 WIT

Kejati Malut Didesak Segera Tetapkan Kadis PMD Halsel Sebagai Tersangka Kasus Dana Desa

15 April 2026 - 15:16 WIT

NHM Fasilitasi Evakuasi Medis Warga Halmahera Utara ke Manado Gunakan Helikopter

13 April 2026 - 20:03 WIT

Trending di Halut