Menu

Mode Gelap

Ternate · 20 Sep 2024 11:27 WIT ·

Muamil Sunan: Kritik Saya Terhadap Kebijakan Pemkot Ternate Tidak Bermotif Politik


 Muamil Sunan Perbesar

Muamil Sunan

Ternate, SerambiTimur — Akademisi Universitas Khairun (Unkhair), Muamil Sunan, merespons pernyataan Sudaryanto yang mempertanyakan motif di balik kritiknya terhadap Pemerintah Kota Ternate. Muamil menegaskan bahwa kritiknya terhadap kebijakan Wali Kota M. Tauhid Soleman telah ia sampaikan sejak 2022, jauh sebelum Wakil Wali Kota Jasri Usman mengundurkan diri.

“Saya sudah sering melayangkan kritik terhadap kebijakan Pemerintah Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara, serta daerah lainnya. Jika ada yang menganggap kritik saya bermotif politik, saya tegaskan itu keliru. Sebaliknya, yang patut dipertanyakan adalah posisi Sudaryanto sebagai dosen, tetapi berada dalam lingkaran kekuasaan Pemkot dan selalu berusaha melindungi penguasa,” ungkap Muamil, Jumat (20/9/2024).

Muamil juga menyebut keterlibatannya dalam penyusunan visi misi pasangan Tauhid-Jasri pada Pilwako lalu dengan tagline “TULUS.” Ia merasa Sudaryanto kurang mengikuti informasi mengenai perannya dalam tim perumus visi misi tersebut.

Dalam kritiknya, Muamil menyoroti program “Faduli BaHiM,” yang menjadi salah satu program prioritas Pemkot Ternate dan telah disetujui dalam RPJMD. Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkecil ketimpangan pembangunan antara wilayah pusat kota dan daerah pinggiran seperti Batang Dua, Hiri, dan Moti (BaHiM).

“Program Faduli BaHiM adalah ide saya kepada pasangan Tauhid-Jasri pada Pilwako. Meski saya bukan warga BaHiM, wilayah tersebut berada dalam administrasi Kota Ternate dan harus mendapatkan perhatian pembangunan yang layak,” tegas Muamil.

Ia juga menilai pemahaman Sudaryanto tentang program Faduli BaHiM hanya sebatas pembangunan rumah singgah BaHiM, yang menurutnya sangat keliru. Muamil mempertanyakan apakah rumah singgah tersebut lebih prioritas dibandingkan pembangunan infrastruktur seperti jembatan di Hiri atau fasilitas di Batang Dua dan Moti.

Selain itu, Muamil juga mengkritik penggunaan anggaran Pemkot, salah satunya Rp4,7 miliar hanya untuk alat tulis kantor (ATK). Ia mempertanyakan apakah anggaran tersebut mencerminkan kebijakan yang pro-rakyat.

“Sebagai akademisi, Sudaryanto seharusnya memberikan masukan kepada pemerintah jika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Sangat disayangkan, ia justru melindungi penguasa tanpa sikap kritis,” tutup Muamil.

Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Fitu Geram, Air PDAM Hanya Mengalir Malam Hari

12 Juni 2026 - 18:03 WIT

Ilustrasi By SerambiTimur

Rapat Tertutup KPK dan Pemprov Malut di Ternate, Akses Media Dibatasi  

11 Juni 2026 - 11:17 WIT

Walikota Luruskan Anggaran Setda: Bukan Anggaran Pribadi, Sisa Dana Kembali ke Kas Daerah

10 Juni 2026 - 11:16 WIT

Transparansi Harta Pejabat Dipertanyakan: Walikota Tidore Tersandung Mobil Mewah dan Pajak Mati

9 Juni 2026 - 22:29 WIT

Ternate Cetak Rekor WTP Selama 12 Tahun

4 Juni 2026 - 21:14 WIT

Diskriminasi Ala Gubernur Sherly Tjoanda: Empat Pejabat Dinonaktifkan Tanpa Kejelasan, Sementara yang Terlibat Kasus Korupsi Tetap Berkuasa

4 Juni 2026 - 19:49 WIT

Trending di Daerah