TOBELO, SerambiTimur- Ruang jenazah RSUD Tobelo masih dijaga ketat ketika Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, bersama jajaran kepolisian meninjau langsung proses identifikasi korban erupsi Gunung Dukono, Senin, 11 Mei 2026. Di balik pintu ruang forensik itu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Maluku Utara bekerja memastikan identitas dua wisatawan asal Singapura yang tewas dalam tragedi pendakian di kawasan gunung api aktif tersebut.
Dua korban WNA ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Material erupsi yang menyapu kawasan pendakian membuat jasad keduanya hanya tersisa serpihan tulang. Seluruh bagian tubuh yang berhasil dievakuasi kini disimpan di RSUD Tobelo sambil menunggu proses identifikasi selesai.
“Saat ini kami memantau langsung proses identifikasi bersama pihak kepolisian dan Wakapolda Maluku Utara,” kata Piet Hein kepada wartawan.
Menurut dia, pemeriksaan awal Tim DVI menemukan dugaan bagian rahang milik dua korban asal Singapura. Namun pemerintah daerah masih menunggu hasil resmi identifikasi yang diperkirakan baru selesai dalam waktu sekitar dua minggu.
“Untuk sementara seluruh serpihan jenazah diamankan di RSUD Tobelo sampai hasil identifikasi keluar,” ujarnya.
Tragedi Gunung Dukono sebelumnya menewaskan tiga pendaki. Selain dua wisatawan asal Singapura, satu korban lain merupakan warga negara Indonesia bernama Angel. Ketiganya menjadi korban saat aktivitas vulkanik meningkat di kawasan pendakian.
Pemerintah daerah kini juga berkoordinasi dengan pihak keluarga korban terkait proses pemulangan ataupun pemakaman jenazah. Dari dua korban WNA tersebut, keluarga Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid sudah berada di Tobelo. Sementara keluarga korban Hen Wen Qiang Timothy hingga kini belum berhasil dihubungi oleh pemerintah maupun pihak imigrasi.
Piet Hein mengatakan, pemerintah daerah siap membantu proses pemakaman apabila keluarga korban memilih dimakamkan di Indonesia.
“Kalau keluarga mempercayakan kepada pemerintah daerah, kami siap memfasilitasi pemakaman sesuai agama dan kepercayaan korban,” katanya.
Di tengah proses identifikasi yang masih berlangsung, pemerintah daerah kembali mengingatkan masyarakat dan para pendaki agar mematuhi seluruh ketentuan keselamatan di kawasan Gunung Dukono. Aktivitas pendakian maupun perjalanan menuju puncak diminta terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Utara, Pos Pengamatan Gunung Api Dukono Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta pemerintah Desa Mamuya.
Menurut Piet Hein, langkah itu penting agar masyarakat memperoleh informasi terkini mengenai aktivitas vulkanik Dukono dan tidak lagi memasuki zona berbahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwa.














Tinggalkan Balasan