SerambiTimur, Gosowong, 16 Oktober 2024 – Bandung kembali menjadi sorotan internasional dengan digelarnya Konferensi Internasional bertajuk “Tunneling and Underground Space for Sustainable Development” pada 2-4 Oktober 2024. Acara ini berlangsung di Pasteur Convention Centre – Holiday Inn Pasteur, menghadirkan pakar dari berbagai negara yang berkecimpung di bidang teknologi terowongan dan tambang.
Konferensi ini diprakarsai oleh International Tunneling and Underground Space Association (ITA-AITES) bekerja sama dengan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dan Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Fokus utamanya adalah mendorong pengembangan ruang bawah tanah secara aman dan berkelanjutan.

Rangkaian Acara yang Mendalam
Agenda konferensi dibuka dengan Pre-Conference Workshop pada 2 Oktober, yang menyajikan materi “Rock Tunneling” dan “Soft Ground Tunneling.” Pada 4 Oktober, Technical Session dibagi menjadi beberapa topik penting seperti Geologi, Investigasi Geoteknik, Tunneling Batu, Pemodelan, Analisis Terowongan, Monitoring, hingga Inovasi dalam Teknologi Terowongan.
Prof. Imam Sadisun dari Institut Teknologi Bandung membuka acara dengan penuh antusiasme, menyambut para peserta dan mengapresiasi karya-karya ilmiah yang akan dipresentasikan. Salah satu sesi yang paling ditunggu-tunggu adalah presentasi dari Era Setiawan pada Technical Session di ruang A, yang membahas “Ground Control Management Plan in Tunnel Construction.”
Antusiasme Internasional untuk PT Nusa Halmahera Mineral
Peserta konferensi terlihat antusias mengikuti sesi Era Setiawan, terutama pada presentasi PT Nusa Halmahera Mineral. Delegasi dari India memberikan perhatian khusus dengan mengajukan pertanyaan mengenai sistem penyanggaan terowongan di tambang Kencana dan pengelolaan suhu tinggi di tambang Toguraci.
“Tambang bawah tanah Gosowong memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki tambang lain di dunia,” jelas Era, menekankan keunggulan yang ditawarkan oleh proyek-proyek pertambangan di Indonesia.
Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
Acara ini didukung oleh berbagai organisasi besar seperti Konsorsium MRT Jakarta, Ikatan Ahli Geotek Indonesia (IRMS), Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia, hingga Masyarakat Geologi Teknis Indonesia (MGTI). Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pengembangan teknologi terowongan dan ruang bawah tanah harus melibatkan banyak pihak demi tercapainya pembangunan berkelanjutan.
ITA-AITES berharap, melalui konferensi ini, inovasi dan pengetahuan yang dibagikan dapat mendorong perkembangan industri terowongan yang lebih aman dan berkelanjutan di masa depan.



















Tinggalkan Balasan