Foto: Monitor Indonesia (Rais Dero)
HALTIM , SerambiTimur– Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Damruddin Rahman, diduga terlibat dalam upaya memenangkan pasangan calon (paslon) nomor urut 4, Sherly Tjoanda-Sarbin Sehe, dalam Pemilihan Gubernur Maluku Utara, serta paslon nomor urut 1, Farrel Adhitama-Thaib Djalaluddin, dalam Pilkada Halmahera Timur.
Skandal ini mencuat setelah rekaman percakapan telepon melalui WhatsApp beredar, melibatkan seorang tim sukses paslon Sherly-Sarbin bernama Zibang Iskandar Alam. Zibang, yang juga diketahui sebagai kontraktor, diduga menjadi perantara Damruddin Rahman dalam memberikan arahan kepada sejumlah kepala sekolah di Maluku Utara.
Dalam rekaman tersebut, Zibang menginstruksikan Sularmi, Kepala SMAN 12 Halmahera Timur, dan Halimah, Kepala SMK Negeri 10 Kepulauan Sula, untuk menggalang dukungan terhadap Sherly-Sarbin dalam Pilgub Maluku Utara. Selain itu, mereka juga diarahkan memenangkan paslon Farrel-Jadi di Halmahera Timur dan Hendrata Thes-Muhammad Natsir (HT Manis) di Kepulauan Sula.
Zibang bahkan meminta kepala sekolah untuk mengumpulkan orang tua siswa di sekolah masing-masing guna mengarahkan pilihan mereka. Dalam percakapan tersebut, Zibang menyebut nama Damruddin Rahman sebagai sosok yang memberikan perintah.
“Komandan di provinsi (Damruddin Rahman) sudah instruksikan, ibu harus pasang badan. Bungkus semuanya!” ujar Zibang dalam rekaman yang tersebar.
Namun, meskipun diduga menggunakan strategi yang tidak etis, paslon Farrel-Jadi tetap mengalami kekalahan telak dalam Pilkada Halmahera Timur pada 27 November lalu. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count), Farrel-Jadi hanya meraih 22.978 suara (41%), sedangkan paslon nomor urut 2, Ubaid Yakub-Anjas Taher, unggul dengan 32.941 suara (58%) dari total 56.451 suara pemilih.
Skandal ini menjadi perhatian publik, menyoroti dugaan penyalahgunaan wewenang oleh pejabat pendidikan dan keterlibatan oknum tertentu dalam politik praktis. Meski demikian, hasil perolehan suara menunjukkan kekuatan suara rakyat tetap menjadi penentu utama.














Tinggalkan Balasan