TERNATE, SerambiTimur-Di antara dua aliran air di sudut Kalumata, Ternate Selatan, berdiri sebuah gubuk reot yang nyaris tak layak disebut rumah. Di sanalah Betai Only (80) dan istrinya Rosmina (35) menghabiskan hari-hari senja mereka—bersama dua anak yang masih kecil, dalam keterbatasan dan ketidakpastian.
Saat hujan turun, bukan kesejukan yang mereka rasakan, melainkan kekhawatiran. Atap bocor, air masuk dari kiri dan kanan, dan banjir kerap memaksa mereka mengungsi ke rumah tetangga.
“Kalau hujan deras, kami langsung ngungsi. Takut terjadi apa-apa,” ujar Only, sembari tersenyum getir saat ditemui Rabu (14/5/2025).
Gubuk itu berdiri tepat di atas saluran air. Kondisinya rawan. Dinding dan atapnya terbuat dari bahan sisa yang disumbang warga sekitar. Bahkan untuk air dan listrik, mereka harus menumpang dari tetangga yang berbaik hati.
Only mengaku telah berpindah-pindah tempat tinggal selama bertahun-tahun karena tak mampu membangun rumah sendiri. Di masa mudanya, ia pernah bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Bastiong, namun kini tak lagi kuat dan hanya bisa mengambil pekerjaan serabutan.
“Untuk makan sehari-hari, saya bergantung pada belas kasih tetangga. Dulu kerja di pelabuhan, tapi sekarang sudah tidak kuat lagi,” katanya.
Sementara Rosmina, sang istri, berjualan nasi kuning milik keluarga di sekitar pelabuhan demi membeli beras dan lauk untuk anak-anak.
“Yang penting ada buat makan. Soal tempat tinggal, kami ikhlaskan saja,” tutur Rosmina, pasrah.
Namun di tengah keprihatinan itu, secercah harapan akhirnya datang.
Kementerian Sosial melalui Sentra Wasana Bahagia Ternate turun tangan. Setelah melakukan asesmen, mereka menyatakan akan memberikan bantuan berupa program bedah rumah.
“Kami lakukan ini untuk keluarga dengan kondisi miskin ekstrem yang perlu ditangani segera,” ungkap Kepala Sentra Wasana Bahagia, Osep Mulyani.
Rumah tersebut akan dibangun di atas lahan milik istri Only di Kelurahan Tongole, berukuran 5 x 6 meter. Proyek ini menjadi satu dari dua unit bantuan yang difasilitasi Kemensos tahun ini di Maluku Utara.
“Kami sudah bertemu langsung dengan keluarga. Insyaallah, rumah akan segera dibangun agar mereka bisa hidup lebih layak,” tambah Osep.
Bagi Only, rumah baru bukan sekadar tempat berteduh. Itu adalah simbol harapan, tempat anak-anaknya bisa tidur dengan tenang, dan tempat yang bisa mereka sebut “rumah” dengan penuh syukur.
Meski anggaran terbatas, pemerintah daerah dan masyarakat juga diharapkan turut berperan. Karena di balik gubuk tua itu, hidup sebuah keluarga yang hanya ingin bertahan—dengan layak dan bermartabat.















Tinggalkan Balasan