Daerah

Bangun Masa Depan Hijau, Mahasiswa Jerman dan Indonesia Tanam Mangrove di Batam

Serambi Timur Diterbitkan 14:56 WIT 2 menit membaca
Ukuran Teks:

Serambitimur.id — Bibit mangrove yang tertanam di pesisir Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam, bukan sekadar tanaman biasa. Ia adalah jembatan pengetahuan lintas benua, di mana mahasiswa Indonesia dan Jerman bergandengan tangan merawat bumi sekaligus merancang masa depan kawasan transmigrasi yang hijau dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi bagian rangkaian Summer Course 2026 bertajuk Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang, yang digelar Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM), Jerman. Hari keempat kegiatan diisi dengan aksi nyata: penanaman mangrove di Dermaga Kampung Nelayan Merah Putih.

Bagi para delegasi asing, pengalaman ini membuka wawasan baru tentang kekayaan alam sekaligus peran vital ekosistem pesisir. Sandra Katharina Rubner, delegasi dari TUM, menekankan mangrove jauh lebih dari sekadar pepohonan, ia adalah benteng sekaligus paru-paru kawasan.

“Kami mendapat penjelasan bahwa mangrove mengikat karbon dioksida dan menghasilkan oksigen lebih banyak dibanding hutan hujan. Ia melindungi pantai dari erosi, meningkatkan kualitas udara, sekaligus mengangkat taraf hidup warga,” ujarnya, Sabtu (4/10/2026).

Vincent Luis Mai, delegasi lain dari TUM, menyebutkan ini pengalaman pertamanya menanam mangrove. “Saya berharap pohon-pohon ini tumbuh subur, menjadi daya tarik wisata yang memberi manfaat ekonomi sekaligus lingkungan bagi masyarakat setempat,” tambahnya.

Penanggung jawab kegiatan, Prof. Wiwandari Handayani dari Undip, menegaskan bahwa program ini menjembatani teori dan kenyataan. “Kita membawa pandangan global ke kawasan transmigrasi. Gabungan pengalaman masyarakat lokal, ilmu pengetahuan Indonesia, dan perspektif internasional melahirkan gagasan yang lebih inovatif. Konsep yang kami susun tidak hanya bicara soal bangunan, melainkan kehidupan yang seimbang,” ujarnya.

Selain menanam pohon, para delegasi berdialog langsung dengan nelayan, petani, Kelompok Wanita Tani, dan pelaku UMKM. Masukan mereka menjadi dasar menyusun rencana yang benar-benar sesuai kebutuhan warga. Empat fokus utama kegiatan meliputi pertanahan dan ekonomi, pengelolaan lanskap, pemberdayaan masyarakat, serta rekayasa lingkungan. Hasil kerja tim akan dipamerkan dalam pameran dan festival budaya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan nasional: Presiden Prabowo Subianto menekankan penguatan ekonomi biru dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menko Infrastruktur AHY juga menegaskan urgensi penanaman mangrove di tengah perubahan iklim. Sementara Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan: “Harus ada banjir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan kawasan transmigrasi.”

Dari pesisir Batam, benih harapan itu kini tertanam,  bukan hanya di tanah, melainkan juga dalam kesepakatan bersama: pembangunan tidak boleh merusak alam, dan kemajuan harus dirasakan semua orang.

Tinggalkan komentar