SOFIFI, SerambiTimur— Gelombang kritik terhadap kampanye lingkungan WALHI di Maluku Utara kembali menguat, namun kali ini bukan dari pemerintah atau pihak perusahaan, melainkan dari masyarakat akar rumput Kawasi—mereka yang selama ini diklaim sebagai korban pembangunan.
Suasana di Kawasi akhir-akhir ini dipenuhi kegelisahan. Bukan karena tambang, tetapi karena narasi WALHI yang menurut warga justru menyinggung martabat mereka. Ungkapan “orang miskin” dan “minum air lumpur” terasa sebagai pukulan yang tidak hanya merendahkan, tetapi juga memisahkan mereka dari kebanggaan sebagai masyarakat Obi.

“Tidak benar itu. Pernyataan mereka berlebihan dan merendahkan,” kata seorang warga, menolak keras citra yang dibangun WALHI.
Di sisi lain, Jofi Cako, pemuda Kawasi yang vokal, menilai WALHI telah mengambil peran terlalu jauh. “Kalau memang serius soal lingkungan, bawalah ke ranah resmi. Jangan hanya membangun opini tanpa ujung,” ujarnya.
Di balik narasi WALHI, Kawasi sebenarnya telah mengalami banyak kemajuan. Di Eco Village, air mengalir bersih dari kran dan listrik tersedia gratis. Masalah justru muncul dari sambungan liar dan penolakan sebagian warga untuk pindah ke pemukiman baru.
“Kalau mau pindah, semua fasilitas sudah tersedia,” ujar Yustinus.
Namun warga Kawasi tidak hanya ingin meluruskan narasi. Mereka berharap situasi ini menjadi momentum untuk memperkuat dialog antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Bagi mereka, masa depan Kawasi bukan ditentukan oleh kampanye luar, tetapi oleh kerja konkret di desa sendiri.
Program CSR di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi harapan besar.
“Kami ingin masyarakat diarahkan untuk mandiri,” kata Jofi, menutup percakapan dengan nada optimistis.
Kisah ini menjadi penegas satu hal: suara masyarakat tidak bisa digantikan oleh narasi siapa pun. Mereka memiliki wajah, pengalaman, dan kehormatan yang patut dihormati.














Tinggalkan Balasan