Opini
Oleh: Fajri Hatim
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dalam tiga tahun terakhir tampak gemilang. Angka dua digit menjadi kebanggaan banyak pihak, smelter dan kawasan industri tumbuh pesat, dan Sofifi muncul sebagai pusat pemerintahan yang terus berbenah. Namun di balik gemerlap itu, ada wajah lain yang jarang diperbincangkan: masyarakat di pulau-pulau kecil yang justru tidak tersentuh kemajuan tersebut.
Laporan SIDEGO yang dirilis September 2025 memberikan gambaran paling jujur tentang situasi tersebut. Struktur tenaga kerja menunjukkan gejala yang kian mengkhawatirkan—pekerja penuh waktu turun, pekerja paruh waktu naik tajam, dan setengah penganggur mencapai 40,44 persen. Banyak yang bekerja hanya sekadar bekerja, tanpa kepastian pendapatan untuk kehidupan layak.
Ironinya, hampir 700 ribu penduduk di pulau kecil hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi yang kerap dipromosikan melalui data statistik. Mereka hidup dalam ruang yang terbatasi laut, minim infrastruktur, dengan peluang ekonomi yang sangat terbatas. Pertanian tidak berkembang, industri kecil hampir tidak ada, pasar kerja stagnan, dan lapangan usaha musiman menjadi penopang hidup bertahun-tahun.
Sementara itu, Halmahera—pulau besar dengan kepadatan rendah—justru terus melaju sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dari Weda hingga Maba, dari kawasan industri hingga koridor transportasi, Halmahera memantulkan tanda-tanda masa depan ekonomi Maluku Utara. Namun jarak laut dan hambatan mobilitas membuat penduduk pulau kecil tidak mampu terkoneksi dengan dinamika tersebut.
Karena itulah gagasan Trans Kieraha muncul sebagai pendekatan yang tidak hanya rasional, tetapi juga manusiawi. Program ini tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi menghubungkan mereka dengan peluang yang selama ini terputus. Ini adalah jembatan yang menyatukan manusia dengan pusat ekonomi yang sedang bertumbuh.
Halmahera mempunyai modal besar untuk menampung penduduk produktif dari pulau kecil. Lahan luas yang belum tergarap, Jalan Trans Kieraha yang menciptakan koridor ekonomi baru, pusat industri yang menyerap tenaga kerja terampil, serta pasar lokal yang berkembang pesat—semua ini adalah ruang produktif yang selama ini tidak dimiliki pulau kecil.
Dalam konsep besarnya, penduduk pulau kecil akan menjadi pelaku ekonomi, bukan sekadar penonton. Mereka diarahkan menjadi petani komoditas lokal, pelaku UMKM, pemasok industri, hingga jasa logistik dan perdagangan antarwilayah. Dengan demikian, Trans Kieraha bukan memindahkan masalah, melainkan membuka peluang hidup.
Kini saatnya kebijakan berani dijalankan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati satu wilayah. Membangun Maluku Utara berarti menghubungkan pulau dengan pulau, dan manusia dengan peluang. Trans Kieraha menjadi jembatan masa depan itu—sebuah jalan kehidupan baru bagi masyarakat pulau kecil.


















Tinggalkan Balasan