Saat malam itu hujan mengguyur deras, Kota Ternate seakan terjaga dari tidurnya. Dini hari di Kelurahan Rua, pada Minggu, 25 Agustus 2024, alam murka. Banjir bandang melanda tanpa peringatan, menghantam rumah-rumah dan meluluhlantakkan apa pun yang ada di depannya. Di tengah kekacauan itu, seorang gadis kecil berusia enam tahun bernama Trizena Lating terjebak dalam arus liar air dan lumpur.
Trizena sedang bermalam di rumah neneknya, yang juga menjadi saksi bisu atas tragedi keluarga sepupunya, Fitrah, seorang anak yatim piatu yang telah kehilangan orang tuanya dalam banjir tersebut. Keduanya adalah korban bencana yang tak bisa dihindari.
Saat Trizena tidur, suara gemuruh seperti gempa mengguncang rumah. Ia terbangun dalam kebingungan, dan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, air berlumpur menerjang rumahnya dengan dahsyat. Dalam kegelapan yang menakutkan, ia melihat neneknya memeluk erat sepupunya yang masih bayi, Ajanna. Namun, hanya dalam hitungan detik, arus kuat memisahkan mereka. Tubuh kecil Trizena hanyut bersama puing-puing rumah, bebatuan, dan batang-batang pohon.
Dengan segala ketakutan, ia berusaha meraih apa pun yang bisa menyelamatkannya. Tangannya akhirnya berhasil mencengkeram erat sebuah batang pohon yang hanyut bersamanya. Di tengah suara gemuruh air dan material yang menghantam, suara kecilnya merintih, “Papa! Mama! Tolong Ade!” Teriakannya terbungkus dalam dentuman air yang tiada henti, namun di sanalah harapan itu muncul. Batang pohon yang ia peluk tersangkut di bebatuan. Trizena akhirnya bisa menepi, meski tubuhnya terluka, tercabik-cabik oleh puing dan lumpur.
Dalam keadaan setengah sadar, ia ditemukan oleh warga di dekat tanggul breakwater, tempat perahu-perahu nelayan bersandar. Trizena telah terseret sejauh 100 meter dari rumah neneknya. Saat ditemukan, tubuh mungilnya penuh luka dan tangisannya masih terdengar lirih, memanggil orang tuanya. Warga segera membawanya ke Rumah Sakit Chasan Boesoirie, Ternate.
Di tempat lain, kedua orang tua Trizena, yang tinggal di Kelurahan Jambula, langsung bergegas menuju lokasi banjir. Saat tiba, mereka disambut pemandangan memilukan: malam yang mencekam, suara tangis dan teriakan meminta tolong bersahutan di udara. Kegelapan dan kekacauan menenggelamkan harapan mereka. Hanya doa yang bisa mereka panjatkan untuk keselamatan puteri kecil mereka.
Ketika fajar tiba, kabar baik akhirnya datang. Trizena ditemukan selamat, meski dalam kondisi luka parah dan trauma yang mendalam. Namun kabar duka segera menyusul: neneknya, sepupu, dan beberapa anggota keluarga lainnya tidak berhasil diselamatkan. Kehilangan ini begitu menyesakkan hati mereka.
Kini, Trizena masih dalam masa pemulihan. Luka di kakinya membuatnya sulit berjalan. Namun, di tengah penderitaannya, ada sedikit cahaya. Keluarga besar PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), melalui Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Musafirin Gosowong dan DKM Baitul Ridwan dari Kantor Pusat NHM Jakarta Utara, datang membawa bantuan. Trizena dan keluarganya menerima donasi di Kantor Kecamatan Pulau Ternate. Bantuan ini menjadi harapan baru bagi mereka yang tengah berjuang menghadapi luka fisik dan emosional.
Senyum tipis tergurat di wajah kecil Trizena saat menerima bantuan dari tim NHM. Diiringi doa, ia berucap lembut, “Pak Haji Robert dan NHM, semoga sehat selalu yaa. Semoga selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.” Ucapan sederhana itu menjadi simbol terima kasih tulus dari hati yang baru saja selamat dari maut.
Bagi kedua orang tua Trizena, keselamatan puteri mereka adalah mukjizat. Di tengah arus yang begitu kuat, tubuh kecilnya bisa bertahan dan selamat adalah anugerah yang tak terhingga. Kini, mereka berharap Trizena bisa pulih, kembali berlari dengan kakinya yang kecil, sembari terus memeluk erat kasih sayang yang mereka terima dari keluarga besar NHM dan masyarakat Maluku Utara.
















Tinggalkan Balasan