Ternate, SerambiTimur – Di balik hiruk pikuknya Pasar Gamalama ada cerita tentang perjuangan, harapan, dan keadilan yang diperjuangkan. Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar, bukan sekadar pejabat yang memantau dari jauh. Ia adalah sosok yang turun langsung, merasakan denyut nadi pasar, dan memahami setiap keluh kesah pedagang.
Jumat dini hari, Pasar Gamalama menjadi saksi bisu dari sebuah perubahan. Bukan hanya sekadar penertiban pedagang kaki lima (PKL), tetapi sebuah upaya untuk mengembalikan hak pejalan kaki dan menciptakan keadilan bagi para pedagang yang setia membayar retribusi. Langkah ini bukan tanpa air mata. Ada pedagang yang harus merelakan lapaknya dibongkar, ada harapan yang sempat menciut. Namun, di balik itu, ada janji tentang tempat yang lebih baik, lokasi yang tetap ramai dikunjungi pembeli.
Nasri Abubakar, dengan ketegasan dan sentuhan manusiawinya, menjelaskan bahwa penertiban ini adalah tentang keadilan. Bagaimana mungkin sebagian pedagang di dalam pasar sepi pembeli, sementara yang di luar bebas berjualan di bahu jalan? Ini bukan hanya soal retribusi, tetapi juga tentang kesempatan yang sama bagi semua.
Satpol PP dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate bergerak bersama, bukan sebagai penindas, tetapi sebagai fasilitator. Mereka membongkar lapak dengan hati-hati, mengarahkan pedagang ke tempat yang telah disiapkan pemerintah. Beberapa pedagang mengeluh, tetapi sebagian besar memahami. Mereka tahu, ini adalah langkah awal menuju pasar yang lebih baik.
Hamzah, seorang pengguna jalan, menjadi salah satu saksi mata perubahan ini. Ia merasakan bagaimana trotoar yang dulu sempit kini lebih lebar, jalan yang macet kini lebih lancar. Ia melihat bagaimana pemerintah hadir sebagai solusi, bukan sebagai masalah.
Penertiban Pasar Gamalama bukan sekadar berita tentang penegakan aturan. Ini adalah kisah tentang keadilan, harapan, dan sentuhan manusiawi seorang pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah pasar bisa menjadi cermin wajah kota yang lebih baik.














Tinggalkan Balasan