TERNATE, SerambiTimur — Gemerlap pertumbuhan ekonomi Maluku Utara, yang selama ini dibanggakan pemerintah berkat industri nikel, ternyata menyimpan sisi gelap yang jarang terungkap. Laporan SIDEGO Kie Raha 2025 membuka tabir itu—dan hasilnya jauh dari indah. Di balik angka-angka pertumbuhan, para pekerja justru menanggung beban yang paling berat.
Dalam laporan itu, Mukhtar Adam, peneliti SIDEGO, menggambarkan Maluku Utara sebagai daerah yang “tumbuh tanpa memeluk rakyatnya.” Pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir elite industri, sementara masyarakat pekerja lokal hidup dalam ketidakpastian.
Angka-angka berbicara lebih keras daripada slogan pembangunan. Hanya 59,9% angkatan kerja bekerja penuh waktu, sementara sisanya bergantung pada pekerjaan paruh waktu dengan upah rendah dan tanpa perlindungan. Ironisnya, situasi ini terjadi ketika Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) justru melonjak tinggi.
“Pemerintah sibuk merayakan keberhasilan, tetapi kami di pabrik makin sulit hidup,” keluh seorang buruh nikel di Halmahera Tengah. Ia meminta namanya tidak dicantumkan, namun suaranya mewakili ribuan pekerja lain yang merasakan hal serupa.
Industri nikel yang dielu-elukan sebagai masa depan Maluku Utara justru tidak ramah bagi tenaga kerja lokal. Posisi strategis banyak diisi oleh pekerja luar daerah, sementara pemerintah gagal memastikan peningkatan keterampilan bagi warganya sendiri.
Sektor pertanian—denyut ekonomi desa—terus melemah tanpa sentuhan kebijakan yang berarti. Banyak petani kehilangan pekerjaan dan terpaksa meninggalkan kampung halaman demi bertahan hidup di kota.
Situasi semakin kompleks ketika Tingkat Pengangguran Terbuka 2025 naik menjadi 4,55%, dengan pemuda menjadi kelompok yang paling terpukul. Ketimpangan gender dan ketertinggalan pulau-pulau kecil kian memperjelas bahwa pembangunan tidak berjalan merata.
Di tengah kondisi itu, SIDEGO menawarkan gagasan Transmigrasi Lokal Trans Kieraha—sebuah konsep pemerataan pembangunan berbasis penguatan sumber daya manusia dan infrastruktur pada wilayah-wilayah pinggiran.
“Trans Kieraha bukan sekadar relokasi. Ini tentang menghadirkan harapan baru melalui pendidikan, pelatihan, dan modal usaha,” jelas Mukhtar.


















Tinggalkan Balasan