HALTENG, SerambiTimur – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, memimpin langsung pertemuan rekonsiliasi antara warga Desa Sibenpopo dan Desa Banemo, menyusul kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu dan sempat meretakkan hubungan sosial kedua desa.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangaji.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sherly menyampaikan pesan damai kepada masyarakat agar tidak saling membalas dan segera menghentikan siklus konflik.
“Tidak boleh saling membalas. Torang samua basudara. Kita harus ikhlas, saling memaafkan, dan tidak menyimpan dendam,” tegas Sherly.
Ia menekankan bahwa proses pemulihan pascakonflik sangat bergantung pada kesiapan masyarakat untuk saling memaafkan.
“Semakin cepat kita mengikhlaskan dan memaafkan, semakin cepat kehidupan kembali normal,” ujarnya.
Gubernur juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi, karena dampak konflik dapat merugikan semua pihak.
“Kalau saling membalas, masalah akan semakin panjang dan semua pihak dirugikan. Kita harus bisa mengontrol diri dan tidak bertindak tanpa dasar yang jelas,” katanya.
Selain itu, Sherly memastikan pemerintah daerah akan bertanggung jawab dalam proses pemulihan, khususnya bagi warga yang terdampak kerusakan akibat kerusuhan.
“Untuk rumah-rumah yang rusak, itu menjadi tanggung jawab pemerintah bersama. Kita akan bangun kembali secara bertahap,” ujarnya.
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal dalam upaya rekonsiliasi antara warga kedua desa, dengan harapan hubungan sosial dapat kembali pulih dan masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai.
Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses pemulihan agar situasi keamanan dan ketertiban di wilayah Halmahera Tengah tetap kondusif.














Tinggalkan Balasan