Ternate, SerambiTimur — Empat tahun sudah, dua bak penampung air bersih berdiri di Kelurahan Tobololo, Kota Ternate. Kokoh, tapi sunyi. Sejak dibangun pada 2021 dengan anggaran nyaris Rp1 miliar, bak itu tak pernah sekalipun dialiri air. Warga pun hanya bisa menatap proyek itu sebagai monumen janji kosong.
Musim kemarau menjadi musim paling menyiksa bagi warga RT 06/RW 03. Ketika matahari memanggang dan sumur-sumur kering, mereka hanya bisa berharap pada hujan untuk menampung air dalam ember dan jerigen.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Air bersih adalah hak dasar, tapi di sini justru jadi barang mewah,” keluh Hidayat Aba, Lurah Tobololo, saat ditemui, Selasa (29/5/2025).
Proyek tersebut dikerjakan di bawah pengawasan Dinas PUPR Kota Ternate, tepatnya Bidang Cipta Karya, saat Isnain P. Siradju menjabat sebagai Plt Kepala Dinas. Kini, di tahun 2025, proyek senilai miliaran itu justru menjadi simbol ketidakberdayaan birokrasi.
Hidayat mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan ke Dinas PUPR. Bahkan bersama tokoh pemuda setempat, ia mendatangi langsung Kabid Cipta Karya, Aisah Ahmad, untuk meminta penjelasan.
“Jawabannya selalu sama: masih diupayakan. Tapi kapan? Warga tak butuh jawaban normatif, mereka butuh air,” tegas Hidayat.
Arham Goma, Ketua Pemuda Tobololo, juga mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, krisis air bersih sudah terlalu lama membelenggu warga.
“Musim kemarau itu siksaan. Tidak ada air untuk mandi, mencuci, apalagi minum. Proyek ini menghabiskan anggaran besar, tapi hasilnya nihil. Pemerintah harus bertanggung jawab,” ucap Arham, dengan nada getir.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Kota Ternate belum memberikan tanggapan resmi terkait kelanjutan proyek.















Tinggalkan Balasan