Catatan Redaksi SerambiTimur tentang Haji Bur dan Kepulangan yang Menggetarkan Ternate
Ada pemimpin yang dikenang karena jabatannya. Ada pula yang tetap hidup karena jejak pengabdiannya. Di Ternate, nama Burhan Abdurahman tampaknya berada di antara keduanya.
Masyarakat mengenalnya sebagai Haji Bur — sosok sederhana yang lebih sering turun ke lorong-lorong kota daripada duduk lama di balik meja birokrasi. Ia bukan hanya wali kota dua periode, tetapi bagian dari ingatan kolektif Ternate tentang bagaimana sebuah kota dibangun dengan kedekatan, ketegasan, dan sentuhan kemanusiaan.
Selama memimpin pada periode 2010–2015 dan 2016–2021, Haji Bur membawa semangat “Bahari Berkesan” sebagai arah pembangunan. Di tangannya, Ternate tak hanya bergerak membangun jalan dan fasilitas publik, tetapi juga memperkuat identitasnya sebagai kota maritim yang berbudaya. Dari pesisir hingga perkampungan, pembangunan perlahan menyentuh banyak sisi kehidupan warga.
Salah satu warisan yang paling sering dikenang ialah Program Barifola — program rumah layak huni bagi masyarakat kecil. Program itu bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan simbol keberpihakan kepada rakyat kecil yang selama ini hidup di pinggir perhatian.
Karena itu, ketika kabar kepulangan jenazahnya dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mulai terdengar, masyarakat Ternate menyambutnya bukan sekadar sebagai prosesi pemakaman ulang. Ada rasa kehilangan yang seperti dibuka kembali. Ada kenangan yang kembali dipanggil pulang.
Namun yang terjadi pada Selasa, 12 Mei 2026, melampaui sekadar kepulangan seorang mantan pemimpin.
Saat makam dibuka untuk proses pemindahan jenazah, keluarga, pemerintah daerah, dan para saksi dibuat terdiam. Setelah lima tahun dimakamkan, jasad Haji Bur disebut masih dalam keadaan utuh. Kain kafannya tampak bersih dan rapi. Bentuk tubuhnya disebut tak mengalami perubahan berarti.
Kesaksian itu datang langsung dari mereka yang berada di lokasi, termasuk Imam Jawa dan Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly.
Takbir pun pecah di sekitar makam.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Di tengah masyarakat yang religius seperti Ternate, peristiwa itu segera dimaknai lebih dari sekadar fenomena biasa. Banyak yang melihatnya sebagai tanda kemuliaan — penghormatan Tuhan kepada seorang hamba yang hidupnya dipersembahkan untuk melayani orang banyak.
Tentu, keyakinan semacam itu adalah wilayah iman. Tetapi satu hal yang tak terbantahkan: Haji Bur memang meninggalkan jejak yang dalam di hati masyarakatnya.
Ia wafat pada 4 Juli 2021 di usia 64 tahun. Namun lima tahun setelah kepergiannya, ribuan orang masih menyambut kepulangannya dengan air mata, doa, dan penghormatan yang tulus.
Pesawat Lion Air JT 896 yang membawa jenazahnya mendarat di Bandara Sultan Babullah pada pukul 10.30 WIT. Sejak bandara hingga lokasi pemakaman, warga memadati jalan. Sebagian datang membawa doa, sebagian lagi hanya ingin mengantar pulang pemimpin yang pernah mereka percaya.
Barangkali benar, waktu bisa mengubur tubuh seseorang, tetapi tidak selalu mampu mengubur pengabdian.
Dan di Ternate, nama Haji Bur tampaknya akan terus hidup — bukan hanya di prasasti pembangunan, melainkan di ingatan orang-orang yang pernah merasakan sentuhan kepemimpinannya.














Tinggalkan Balasan