HASEL, SerambiTimur- Di tengah dinamika isu lingkungan dan sosial yang kerap mencuat dari Kawasi, Halmahera Selatan, suara warga setempat jarang benar-benar terdengar secara utuh. Padahal, justru dari merekalah gambaran paling jujur mengenai kondisi di lapangan dapat diperoleh.
Di Pemukiman Baru atau Eco Village Kawasi, fasilitas air dan listrik telah tersedia. “Air tinggal main putar di kran,” ujar seorang warga, menggambarkan betapa mudahnya akses air bersih di kawasan baru tersebut. Namun, sebagian warga masih memilih bertahan di Pemukiman Lama dengan berbagai alasan. Perbedaan pilihan inilah yang turut memicu salah kaprah terkait ketersediaan fasilitas dasar.
Cerita serupa terlihat pada isu listrik. Tidak sedikit warga yang menyebut bahwa defisit listrik tidak terjadi karena perusahaan tidak mampu menyediakan daya, melainkan karena praktik penyambungan liar dari pihak luar yang mengacaukan jaringan.
“Kalau mereka mau pindah, semua kegelisahan sudah terjawab,” tegas seorang warga.
Di tengah polemik itu, Jofi Cako muncul sebagai salah satu suara yang mengajak semua pihak lebih bijak. Baginya, membangun opini yang menjurus pada konflik hanya menambah keruh situasi. Ia mengingatkan bahwa isu lingkungan dan sosial semestinya dihadapi dengan data, dialog, dan kejujuran.
“Cukuplah membuat opini-opini yang dampaknya kurang baik kepada masyarakat,” ujarnya tegas.
Harapan warga jelas: duduk bersama, membahas solusi, dan memastikan program pemberdayaan terus berjalan. Pertanian, perkebunan, hingga perikanan dinilai harus menjadi fondasi kemandirian masyarakat Kawasi ke depan.
Di balik riuh isu publik, suara warga Kawasi mengajarkan satu hal: bahwa kebenaran sering kali lebih sederhana dari narasi yang dibingkai dari jauh.














Tinggalkan Balasan