Ternate, SerambiTimur— Di balik dinding Puskesmas Kalumpang, Kelurahan Kalumpang, Ternate Tengah, tersimpan persoalan serius yang mengancam pelayanan dasar kesehatan warga. Obat-obatan menipis, bahkan beberapa hampir kedaluwarsa. Yang tersisa, hanya kekhawatiran para tenaga medis yang berjibaku setiap hari tanpa kepastian pasokan yang layak.
Permasalahan ini terkuak saat Anggota DPRD Kota Ternate, Nurjaya Hi Ibrahim, melakukan kunjungan mendadak pada Rabu (28/5/2025). Temuannya mencengangkan: nilai pagu belanja obat yang sebelumnya mencapai Rp24 juta kini terpangkas drastis menjadi hanya Rp6,3 juta.
“Ini setelah saya terima laporan dari beberapa pasien yang kecewa karena sering tidak mendapatkan obat,” ujar Nurjaya.
Kondisi ini diperkuat pengakuan langsung dari apoteker Puskesmas, Wirda Katjong. Ia mengeluhkan buruknya sistem pengadaan obat yang selama ini berjalan tanpa melibatkan pihak Puskesmas secara langsung.
“Kami sering menerima obat yang sudah dekat masa kedaluwarsa. Seperti vitamin C dari pengadaan tahun lalu, sekarang sudah hampir kadaluwarsa dan belum terpakai,” ungkap Wirda.
Lebih parahnya lagi, lanjut dia, pihak Puskesmas kerap diminta “menghabiskan” obat-obat tersebut meski tidak sesuai dengan kebutuhan pasien. Akibatnya, tumpukan obat tak terpakai memenuhi ruang penyimpanan, menjadi simbol pemborosan dan ketidakefisienan birokrasi kesehatan.
Menurut Wirda, setiap kali Puskesmas mengisi data kebutuhan obat secara rinci, hasilnya tak pernah direalisasikan. Bahkan, alat kesehatan yang diterima sering kali tidak relevan dengan kebutuhan lapangan.
“Seharusnya kami dilibatkan sejak awal, karena kami yang tahu apa yang dibutuhkan pasien setiap hari,” tegasnya.
Menanggapi temuan tersebut, Nurjaya meminta Dinas Kesehatan Kota Ternate segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perencanaan pengadaan obat. Ia bahkan menyarankan agar pihak yang bertanggung jawab diganti jika tidak mampu menyelesaikan masalah.
“Setiap tahun Puskesmas mengusulkan kebutuhan, tapi yang datang selalu beda. Obat mendekati kadaluwarsa, alat tidak terpakai. Ini bukan hanya soal kelalaian, tapi sudah menyangkut nasib warga,” tandas Nurjaya.














Tinggalkan Balasan