TERNATE, SerambiTimur — Pagi itu di Hotel Batik, suasana tampak lebih hidup dari biasanya. Para akademisi, pegiat konservasi, perwakilan pemerintah, hingga lembaga statistik duduk bersama dalam satu ruangan. Mereka hadir dengan satu tujuan: membahas masa depan investasi pariwisata bahari Maluku Utara, khususnya di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Ternate.
Di tengah forum itu, Kepala Dinas PTSP Maluku Utara, Nirwan M.T Ali, tampak berbicara dengan penuh optimisme. Ia menyebut kegiatan ini sebagai “langkah awal strategis” untuk mengangkat pariwisata bahari Maluku Utara menjadi kekuatan baru ekonomi daerah.
“Laut kita menyimpan kekayaan luar biasa—keragaman hayati, terumbu karang, dan budaya maritim yang tidak dimiliki daerah lain. Sebagian besar berada di KKPD, dan itu artinya pengembangannya tidak boleh sembarangan,” tutur Nirwan, menegaskan pentingnya prinsip keberlanjutan.
Di antara para peserta forum, diskusi mengalir membahas tantangan besar Maluku Utara: bagaimana mengurangi ketergantungan pada pertambangan. Data menunjukkan bahwa realisasi investasi Triwulan III 2025 mencapai Rp61,99 triliun, namun hampir seluruhnya—90,96%—didominasi oleh sektor nikel. Di sisi lain, investasi pariwisata masih sangat kecil, hanya Rp3,14 miliar sepanjang 2024.
Angka itulah yang mendorong forum ini digelar. Nirwan ingin pariwisata bahari tidak lagi menjadi “tambahan”, tetapi pilar penting dalam struktur ekonomi Maluku Utara. Ia menekankan perlunya dokumen IPRO, sebuah instrumen resmi yang akan memperkenalkan peluang investasi kepada calon investor global: dari potensi spot wisata, analisis kelayakan, model bisnis, hingga skema kemitraan masyarakat.
Para akademisi dari Unkhair dan UMMU memberikan pandangan ilmiah tentang daya dukung lingkungan. Perwakilan WCS dan Rare Conservation mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut sebagai bagian dari identitas Maluku Utara. Sementara perwakilan BPS menyodorkan data yang membuka mata tentang peluang dan tantangan sektor pariwisata.
Forum itu bukan sekadar pertemuan teknis. Ia menggambarkan kesadaran kolektif bahwa laut bukan hanya ruang hidup, tetapi juga ruang masa depan.
“Harapan saya, forum ini melahirkan kebijakan dan langkah konkret. Kita ingin Maluku Utara menjadi destinasi wisata bahari yang unggul, berdaya saing, sekaligus menjaga laut yang menjadi identitas kita,” ujar Nirwan menutup sambutannya.
Pagi itu, di sebuah ruangan sederhana, Maluku Utara seperti sedang menyusun peta jalannya menuju masa depan baru: masa depan yang menjadikan laut bukan hanya kebanggaan, tetapi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.













Tinggalkan Balasan